my profile

Rabu, 28 Oktober 2020

"Gue Gak Percaya kalo Elu Introvert"

 "gue gak percaya kalo elu introvert", ungkap seorang teman

Ya sebenarnya itu adalah kalimat yang sering ku dengar. Tak ada yang percaya jika seorang Arinak adalah introvert, ya bahkan aku pun juga tak percaya pada akhirnya, sampai akhirnya aku membaca sebuah keterangan tentang apa sebenarnya introvert itu, dan akhirnya aku mengakui jika aku memang lebih condong introvert, hmm meski sebenarnya bisa dibilang hampir seimbang, hampir ambivert.

Aku ingat, sedari kecil, aku mudah lelah jika berkumpul dengan orang banyak. Bukan berarti aku tak suka bertemu orang, tapi lama-lama energiku terkuras dan butuh menyendiri untuk mengisi energi kembali. Aku juga cenderung menyembunyikan emosiku yang sebenarnya dari khalayak ramai. 

Karena aku tinggal dengan mbah uti (nenek) di kotaku sedari kecil, setiap lebaran banyak keluargaku pulang kampung ke rumah kami untuk mengunjungi mbah uti. Aku senang saat saudaraku berkunjung, namun ada momen aku merasa lelah dengan keramaian. Aku sering sekali ketika masih bocah, menangis di maghrib terakhir bulan ramadhan, menuju pergantian idul fitri, entah mengapa ingin menangis saja. Meanwhile, di luar kamarku, banyak saudaraku yang berhahahihi bercanda ria dengan ramainya. Aku juga tak tahu mengapa aku menangis sendiri padahal di luar ramai. 

Dididik untuk Ramah ke Semua Orang

Ayah mamaku termasuk tipikal orang tua yang agak memusingkan masalah ini hahaha. Ayah mama pasti akan memarahi habis-habisan di rumah ketika aku ketahuan diam saja, memasang muka masam atau tak menyapa orang-orang yang harus ku sapa ketika di momen berkumpul dengan semua orang. Aku juga dimarahi ketika terlihat menyendiri di kamar, padahal aku hanya lelah melihat banyak orang berkumpul wkwk. Aku tak bermaksud menyalahkan orang tuaku sih, karena ini juga ada manfaatnya juga sih, setidaknya dapat bersosialisasi dengan baik di masa depan. 

Kurang adanya Privacy Space 

Sebagai anak yang tinggal dengan orang tua dari bayi hingga sekolah menengah atas, ya tentunya aku tinggal di rumah sendiri. Hanya saja, ketika di rumah, ayah menerapkan peraturan jika kamar tidur tidak boleh ditutup pintunya, harus senantiasa terbuka. Aku tak paham sebenarnya mengapa harus begitu, hanya saja aku pernah mendengar ayah berkata demikian. 

Aku juga ditegur ketika terlalu lama beraktivitas di kamar haha. Pada saat kuliah di Kota Malang dan ngekos sendirian, aku benar-benar merasakan sendiri bagaimana nikmatnya sebuah privacy. Terkadang, kita perlu sendirian melakukan apapun yang kita suka setelah lelah beraktivitas. Atau mungkin bebas jika tak melakukan apapun sama sekali saat sedang santai / istirahat?

Suka Pergi Sendirian

Aku sebenarnya baik-baik saja jika harus bepergian sendiri atau dengan orang lain, tak ada masalah. Hanya saja, aku cenderung tak enak hati jika ternyata teman bermainku kurang suka dengan tujuan yang sudah aku atur, padahal jika keluar bersama ya harus senang bersama kan ya. Sehingga aku lebih sering pergi kemana pun sendiri. 

Saat masih kuliah, aku sering berkeliling tanpa tujuan hanya untuk melepas penat. Menyenandungkan beberapa lagu yang ku suka sambil merasakan pipiku diterpa angin~ elahh haha

Saat bekerja di Surabaya, tak banyak waktu yang ku habiskan untuk berkeliling karena aku masih takut berkeliling Surabaya. Ketika bekerja di Depok, Jawa Barat aku cenderung main sendirian ke Jakarta. Bukan main yang gimana-gimana sih, hanya makan di tempat favorit, ke perpustakaan nasional, Erasmus Huis, ke mall, toko buku dll

Aku juga pernah mencoba rute KRL dari Bogor - Jatinegara - Bogor hanya untuk iseng saja. Duduk diam berkontemplasi wkwkwk sembari melihat ke luar jendela. Begitu juga halnya denganku yang berkeliling bolak balik di MRT atau Transjakarta. Aneh memang, tapi ya gimana dong aku suka. 

Tentang Introvert seorang Arinak

Buatku, Introvert bukan tentang kita yang selalu menyendiri, selalu pendiam, pemalu, tidak berani speak up dan hal-hal negatif yang disematkan bagi penyandang gelar introvert ini. 

Buatku, kita semua bisa saja ramah dan ceria di luar, namun berkeluh kesah memikirkan banyak hal saat malam hari, atau melepas lelah karena seharian bertemu dengan manusia. Itu semua normal. Sebagai introvert, boleh saja bersuara atau menunjukkan kemampuan diri kita yang sebenarnya, tanpa senantiasa making excuse di balik embel-embel "aku kan introvert. Tidak ada yang salah menjadi introvert, karena itulah diri kita sendiri. Namun, yang salah adalah ketika kita justru menjadikan hal alamiah dari diri kita menjadi penghalang kita untuk berkembang menjadi lebih baik. 

tidak ingin bersuara karena merasa dirinya introvert, padahal itu bukan introvert, itu hanya rasa malu. 

cuek dengan sekitar karena merasa dirinya introvert, padahal itu bukan introvert, itu hanya rasa tidak peduli. 

you can be what you wanna be, everything

Lalu apa maksud tulisan ini? gatau, hanya iseng saja sebenarnya haha. 

Lebih ingin mencurahkan apa yang di pikiran saja setiap mendengar statement tersebut. 


Rabu, 14 Oktober 2020

K-Drama, Pernikahan dan Dia

Entah mengapa, di umurku yang sudah seperempat abad, aku suka sekali menonton korean drama tentang pasangan yang sudah berkeluarga. Lebih tepatnya, aku menyukai drama yang berjudul Go Back Couple (2016, kalau tidak salah) dan 18 Again (Sept 2020, sedang on going ketika postingan ini ditulis)

Kedua cerita dan plot drama itu hampir mirip, karena sutradaranya juga sama. Intinya, ada sepasang suami istri yang punya beberapa masalah selama pernikahannya, lalu salah satu dari mereka bahkan keduanya diberi kesempatan untuk kembali masa lalu di masa sebelum mereka menikah.

Dunia Pernikahan itu..

Buatku, dunia pernikahan memang tidak semudah itu. Dunia orang dewasa saja lebih problematik, ditambah dewasa kemudian menikah. Aku teringat pada saat masih bocah, aku mencuri dengar ayah dan mama yang bertengkar kecil atau bahkan bertengkar tanpa bertegur sapa, walaupun setelah itu mereka akur kembali. Sebagai seorang anak, tidak enak rasanya melihat hal seperti itu. Hingga akhirnya aku sendiri telah sampai pada umur 25 tahun, katanya umur ini sudah memasuki umur siap nikah secara fisik bagi perempuan, hmm namun belum tentu secara mental.

Di satu sisi, aku ingin menikah hanya karena teman-teman sekitar sudah menikah, namun ada titik di mana aku berpikir apakah aku sanggup dan sudah siap terjun ke dunia pernikahan. Alih-alih bicara soal sanggup atau siap, yang diajak menikah saja belum ada, HAHAHAHAH.

Tentang Kedua Korean Drama tadi..

Di Kdrama Go Back Couple, pasangan itu sama-sama kembali di masa lalu saat mereka pertama kali bertemu. Karena tahu diberi kesempatan untuk kembali, mereka memuaskan diri untuk mendekati incaran masing-masing di masa lalu dan bersikeras untuk menghindar satu sama lain. Alih-alih mereka berpisah, ternyata mereka justru banyak mendapat kenyataan-kenyataan baru yang membuka mata mereka soal hubungan pernikahan selama ini. Iya, saking seringnya salah paham dan tidak mau mendengar hati ke hati, mereka kehilangan esensi kasih dalam pernikahan mereka. Wallaaaa setelah sadar akhirnya mereka dapat kembali ke masa mereka sudah menikah.

Beda halnya dengan Kdrama 18 Again. Pasangan ini tidak kembali ke masa lalu, namun salah satu pasangan ini (pihak suami) justru kembali muda di masa saat ini dan bahkan satu sekolah dengan anak-anak mereka. Istri tetap menjadi pada umurnya dan tidak mengetahui jika suaminya telah berubah karena mereka sudah pisah rumah beberapa waktu (aku nonton masih ep 7 jadi istri belum tau, entah jika di ep selanjutnya ternyata sudah terungkap)

Namun, plot cerita 18 Again ini hampir sama dengan Go Back Couple, ternyata banyak hal yang tidak kita ketahui dari pasangan, bagaimana tentang mengucapkan bahasa cinta satu sama lain, dll

Eh tapi aku belum tahu endingnya bagaimana ya.

Namun, aku menangis di beberapa episode karena merasakan tentang susahnya jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak seperti itu. Permasalahan orang dewasa dipadu dengan masalah pernikahan, beuh. 

Tentang Dia, yang selalu peduli..

Walaupun single bertahun-tahun, namun bukan berarti aku tidak memiliki tambatan hati *ciyeilah tambatan hati. Aku punya seseorang yang sudah ku kenal sejak akhir 2013. Total 7 tahun kami berteman dan mengenal satu sama lain. Entah mengapa, meski tidak terikat hubungan resmi pacaran atau pernikahan, aku merasa nyaman dengannya, mungkin karena dia sudah tahu banyak kekurangan, keburukan dan kelebihanku. Ya, aku mencintainya, namun sepertinya dia tidak haha. Tapi dia tetap jadi teman baikku. 

Aku pernah ada di titik begitu membenci dia, karena aku merasa kalau aku telah banyak berkorban sedangkan dia tidak. Namun, melihat Go Back Couple itu (aku baru nonton tahun 2018) seketika menyadarkanku kalau hubungan tidak melulu tentang diri kita sendiri. Setiap aku jengkel padanya, aku selalu berusaha mengingat kebaikan-kebaikannya dan pengorbanannya padaku. Aku berusaha bertanya bagaimana kabarnya (ya, aku tak pernah bertanya bagaimana kabarnya, karena ku kira kita selama 4 tahun bertemu setiap hari dan saling follow sosmed masing-masing, jadi ya saling tau kabar dong harusnya. ternyata aku salah), bagaimana harinya di tempat kerja hari itu, mendengarkan dan menvalidasi keluh kesahnya dan berterima kasih padanya setiap dia melakukan sesuatu untukku. 

Pada akhir 2019, aku sempat berusaha bertanya kepada dia tentang bagaimana hubungan ke depannya, namun ternyata tidak ada yang harus digimanakan karena kita memang berteman. I'm okay with that, justru aku lebih lega saat ini karena sudah jelas semuanya, meski kita harus saling membatasi dalam berkomunikasi. 

Jujur, aku sempat kehilangan sosok yang terbiasa mendengarkan keluh kesahku dan ku tanya-tanya terkait apapun.  Aku tak bisa menghubunginya karena sudah berjanji untuk saling membatasi diri. Hingga ada momen, hubungan pertemanan kita sedikit cair kembali, meski tidak sama seperti dulu lagi. Aku sadar jika cairnya hubungan pertemanan ini karena masing-masing dari kita sudah sama-sama dewasa. Iya, dia orang baik dan dewasa, ehmm yg terbaik yang pernah ku kenal hingga saat ini. 

Aku mulai sedikit bisa bercerita tentang apa yang menimpaku di tempat kerja, apa kesedihan yang ku rasakan, dll. Ia tetap seperti dahulu, tetap mendengarkanku, dan ituu sangat-sangat membuatku jauh lebih baik. Hingga ada masa di mana aku harus berhenti kerja di tempatku saat itu, dan aku mengirim pesan WA kepada dia bahwa aku harus berhenti kerja. Bukan pesan yang sedih, aku menganggap lay off, phk dll adalah hal wajar bagi pekerja, aku hanya menghubungi dia kali aja dia dapat memberi informasi lowongan kerja baru untukku.

Namun, detik itu juga, dia menelponku dan bertanya bagaimana perasaanku. Aku menerima telpon darinya di dlm kamar mandi kantor dan aku menangis terisak-isak di sana. Padahal tadi saat diumumkan aku tidak bisa lanjut, aku merasa biasa saja dan tidak menangis, sedih sewajarnya. Entah mengapa, Ia membuatku nyaman untuk bercerita hingga aku menangis, mengeluarkan segala kekesalan yang selalu ku tahan-tahan dalam diriku. 

Iya, dia ada untukku, selalu ada untukku di saat aku benar-benar membutuhkannya.

Dia pasti selalu menelpon tiap aku memulai sesi curhat dengan mengirimkan teks panjang-panjang. Mungkin lebih mudah baginya mencerna omonganku daripada pesan yang ku tulis, yang tentunya ku tulis secara emosional dan tidak beraturan. 

Pada drama 18 Again ep 7, ada scene yang menceritakan bahwa sang suami melihat jika istrinya yang bekerja sebagai reporter dan bekerja di luar ruangan, merasa kesusahan karena dibentak-bentak oleh kru. Pada malam hari, sang suami melihat istrinya terlihat stres dan lelah lalu sang suami menghibur istrinya dengan menyebut,"kerja bagus hari ini"

Seketika muka sang istri berubah dan berkata,"bolehkah kau mengulangi lagi perkataanmu tadi?"

Tangisku langsung pecah ketika melihat scene ini. Entah mengapa begitu related dengan diriku dan dia, meski kita bukan sepasang suami istri. 

Entah mengapa, bercerita padanya, cara dia peduli, mendengar suaranya, tertawa bersamanya cukup memberikan energi positif dan kekuatan sehingga aku selalu merasa lebih baik setelahnya. Sejengkel-jengkelnya aku, aku selalu luluh melihat apa yang dia lakukan padaku. Sejauh apapun aku berusaha mencari orang lain untuk menjadi pengganti, entah mengapa aku merasa jika cuma dia yang mengerti perasaan dan tingkah laku Arinak luar dalam. 

Terima kasih sudah selalu peduli, dan paling mengerti. Kadang aku berharap, apakah aku tidak bisa memohon kepada Allah, jika aku ingin suami seperti dia saja, cukup dia saja yang dengan rela ku terima sepaket kelebihan kekurangannya. Cuma, ya sudahlah. Saat ini, ada dia yang peduli saja sudah cukup untukku. 

Thank you, temanku yang baik


Sabtu, 18 Juli 2020

Nangis karena Lagu Iwan Fals

Sebagai anak pertama, sedikit banyak aku merasakan bagaimana keluarga kecilku membangun hidupnya dari bawah. Apakah kalian semua yang anak pertama juga seperti itu juga? Menjadi saksi bagaimana orang tua kalian berjuang begitu keras hingga saat ini dapat dinikmati hasilnya.

Arina Kecil yang Mudah Menerima

Sebagai anak kecil yang masih tidak mengerti apapun, aku mudah menerima apa pun yang aku dapat dan tidak aku dapat sedari kecil. Apapun yang ada ya itu yang aku bisa nikmati. Yang aku ingat, ayah bekerja sebagai guru Fisika di salah satu sekolah islam negeri di Surabaya yang pulang seminggu sekali. Jaman segitu, gaji guru masih kecil sekali, sehingga membuat ayah mama begitu berhemat agar bisa bertahan hidup.

Aku tak pernah merasakan adanya mainan khas anak kecil apapun. Sampai pernah suatu hari mama baru pulang dari pasar dan membawa 2 boneka anjing. Aku yang tak pernah menyentuh mainan, senang sekali rasanya dibelikan boneka oleh mama. Kata Mama,"mumpung murah, mama bisa beli".
Aku juga masih ingat ketika tiap kali aku tertarik suatu buku menggambar yang bagus atau krayon warna 12 buah bermerk, ayah selalu berkata,"Maaf, Nak. Ayah gak punya uang"

Sebenarnya aku tidak sedih, aku sangat memahami saat itu. Tanpa rengekan dan drama tangisan, aku diam saja. Hingga aku tidak pernah berani minta apapun lagi, karena aku paham jika Ayah tidak punya uang.

Pernah juga, Mamaku mendapat pesanan keripik banyak sekali dan Mama mengantarnya ke Kota Jombang. Kebetulan tempat pemesan berada di sekitar alun-alun Kota Jombang. Arina kecil yang tidak pernah keluar sama sekali, merasa senang sekali. Mama berkata bahwa aku antusias sekali dan semangat sekali hingga mama mengajakku duduk di pinggir alun-alun Kota Jombang. Padahal ya, Alun-Alun Kota Jombang tuh biasa aja sebenarnya, cuma kotak dan penuh rumput, tapi aku heboh sekali. Maklum, katrok wkwkwk

Ayah yang Begitu Peduli Pendidikan dan Keras dalam Mendidik

Walaupun begitu, ayah sangat peduli dengan pendidikanku. Ayah begitu berusaha melengkapi semua list buku paketku kala aku masuk Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) dulu. Sebagai seorang guru, wajar jika Ayah sangat mementingkan pendidikan anaknya.

Waktu kelas 1-2 MI, aku masih belajar dengan Mama karena Ayah masih kerja di Surabaya. Ayah pindah mengajar Fisika di Jombang ketika Adekku sudah lahir ke dunia ketika aku mau naik ke kelas 3. Lengkap sudah, saat itu aku belajar terus dengan Ayah. Mulai dari belajar ngaji sampai Matematika dan IPA.

Ayah begitu keras dalam mengajar mengaji. Setiap hari aku selalu menangis tanpa suara tiap mengaji haha. Iya, ayah memang sekeras itu jika mengajariku mengaji, tapi itu yang membuatku bisa mengaji. Namun, aku tak ingin menerapkan ini ke anakku kelak haha. Aku harus mencari cara agar dapat mengajari ngaji anakku kelak, dengan metode serius tapi santai. Semoga bisa ya HAHAHAHA.

Tidak cuma keras dalam mengajariku mengaji, namun juga keras dalam mengajariku Matematika. Entahlah mungkin karena aku aja yang lemot dalam mencerna pelajaran HAHAHAH. Intinya saat itu, 2 hal menegangkan dalam hidupku adalah ketika belajar Matematika dan Mengaji xD

Kesukaan Ayah, ya Kesukaanku pula

Hiburan favorit ayah adalah membaca koran dan mendengarkan musik Iwan Fals. Sedari kelas 3 SD, aku terbiasa membaca satu bundle Koran Jawa Pos yang ayah beli beberapa hari tertentu. Karena ayah tak mampu membelikanku buku bacaan, jadi aku membaca yang ada saja. Kalau tidak membaca buku pelajaran, ya baca koran milik ayah haha. Kala itu tahun 2003, koran seharga Rp 1.000,- apa yah, jadi masih cukup terjangkau buat Ayah.

Awalnya aku tidak mengerti isi Koran Jawa Pos, namun lama-lama aku mengerti meski aku kurang bisa menjelaskan ulang apa maksud beritanya. Mulai dari berita utama, kriminal, bola, sampai deteksi dan kolom cinta-cintaan yang cuma terbit saat hari minggu saja itu. Wkkwkwkw sepertinya aku dewasa sebelum waktunya, untung aku tidak aneh-aneh anaknya HAHAHA

Ayah juga selalu memutar album-album lawas Iwan Fals. Tanpa sadar, semua lagunya sudah hapal di luar kepala olehku dan aku ikut mendendangkan lagu tersebut. Bayangkan nak-kanak kelas 3-4 SD nyanyi lagu Iwan Fals yang isinya tentang kritik sosial. Ya gak ada istimewanya sebenernya sih.

Namun, lagu-lagu ini yang menjadi vibes masa kecilku, hingga begitu membekas sampai aku berumur 25 tahun saat ini.

Saat Susah Bersama Ayah

Ayah orangnya begitu sederhana, begitu juga Mama. Saat itu, motor ayah masih motor butut yang suka mogok. Aku kurang paham nama motornya, namun ayah selalu menyebut motornya dengan nama "Robot". Ayah selalu diejek orang sekitarnya terkait motornya yang selalu mogok tersebut. Namun aku paham mengapa ayah belum mau membeli motor baru, karena ayah saat itu sedang mencicil untuk beli tanah.

Yepp, sedari bayi hingga aku kelas 1 SMP, aku masih tinggal dengan Nenekku (Ibunya Mama). Ayah dan Mama membeli tanah milik saudara di belakang rumah nenekku. Kayaknya tanahnya lunas pas aku mau menginjak kelas 6 SD.

Selama dengan si Robot, kami mengalami suka dan duka. Waktu itu Ayah mempunyai urusan ke Surabaya dan memintaku untuk menemani Ayah. Aku yang jarang keluar rumah dan keluar kota  merasa senang menerima tawaran itu. Saat berangkat ke Surabaya, tak ada hambatan yang berarti sih. Sepanjang jalan, aku mendendangkan lagu-lagu Iwan Fals yang ku hapal mulai dari Bongkar, Puing, Air Mata Api, Nyanyian Jiwa, Perempuan Malam hingga Ibu. Hingga sampai di salah satu perempatan lampu merah di Surabaya, saat itu hujan baru saja reda. Aku melihat ada anak lelaki seumuranku basah kuyup. Di tangannya mendekap setumpuk koran yang sudah dilapisi plastik. Ia berdiri di pinggir perempatan sembari menggigil. Aku yang melihat hal itu langsung teringat lagu Iwan Fals yang berjudul Sore Tugu Pancoran.

Gambaran lagunya persis seperti itu. Mataku meneteskan airmata, tak sanggup melihatnya. Aku tak membayangkan bagaimana jika itu aku. Ayah tak tahu jika aku menangis, karena aku pandai menyembunyikan tangis dan kesedihanku eaaaa eaaaaa eaaaaaa~~~~~~

Aku sempat menginap sehari di rumah saudaraku di Surabaya sampai akhirnya urusan Ayah selesai dan kami harus pulang ke Jombang. Lagi-lagi, Surabaya menumpahkan air hujannya kala itu, dan drama dimulai.

Sebenarnya, sejak Wonokromo, motor ayah sudah menunjukkan tanda-tanda tidak jelas. Ketika mau masuk area Mojokerto, mulai lah mogok motor ayah, padahal itu hujan lebat. Ayah mendorong motornya dan aku mengikuti dari belakang. Sebenarnya sedari tadi kami sudah melewati banyak bengkel namun banyak yang tutup. Ada satu bengkel yang sedikit terbuka, namun ditolak oleh pemilik bengkel. Katanya, itu motor udah terlalu tua hahahah. Jadi maksudnya suruh ganti gitu? LOL KOCAK SIH sebenarnya walau saat itu aku sedih sekali dan tidak bisa tertawa sedih sekali :'(

Akhirnya ayah kembali menuntun motornya dan berusaha menstarter si Robot yang hidup segan mati tak mau itu. Dari belakang, aku terus berjalan, berharap Allah SWT memberi pertolongan dan keajaiban kepada kami. "Ya Allah, tolong lancarkanlah perjalanan kami sampai Jombang saja, kasihan ayah", tuturku lirih. Ayah berkali-kali juga menengok padaku dan berkata,"capek gak Nak? maaf ya Nak". Jujur, aku tidak merasa capek atau kesal, aku hanya sedih melihat ayah yang selalu susah dengan si Robot ini :'(

Setengah jam kami berjalan, mungkin Ayah sudah lelah jadi Ayah tidak awas melihat kanan kiri. Aku melihat ada bengkel besar buka di seberang jalan dan aku berteriak pada ayah,"YAH ITU ADA BENGKEEELLLLL"

Akhirnya motor ayah diperbaiki. Bajuku yang awalnya basah kuyup, sudah kering dengan sendirinya HAHA. Setelah motor ayah kelar diperbaiki, kami melanjutkan perjalanan pulang. Aku berdoa kembali semoga tidak mogok lagi motornya sampai rumah. Saat pulang, hujan deras kembali mengguyur. Aku ketar-ketir takut motor ayah mogok lagi karena hujan. Demi menghilangkan keresahan akan mogok, aku mendendangkan lagu Iwan Fals yang berjudul Pesawat Tempurku dong HAHAHAHA.

"Penguasa, penguasaaaaa berilah hamba uangggg
beri hamba uang!"

Beri hamba uang supaya bisa beli motor baru wkwk

Namun sekejap aku mengganti playlist laguku dengan lagu Iwan Fals ft Franky Sahilatua yang judulnya Terminal.

Bocah kurus tak berbaju
tajam matamu liar mencari bangsa
ramai para pedagang
datang tawarkan barang
ratap pengemis bak meriam dalam perang
iringi deru mesin-mesin
iringi tangis yang kemarin
aku datangi kamuuuu lewat laguuuuu
ku datangi kamuuuuuuu

Entah mengapa, lagu Iwan Fals sangat relate dengan kehidupan kami sebagai rakyat kecil saat itu.

14 Juli 2020

Aku menunggu go-carku di depan kantorku sambil main hago, hingga 10 menit kemudian go-carku sudah kelihatan dari ujung gerbang perumahan.
masuk, menyapa selamat malam ada driver dan duduk. Detik itu juga aku mendengar sebuah lagu yang tak asing, yang membangkitkan memori-memori masa kecil yang indah. Aku tahu banget lagu ini, ini lagu Iwan Fals yang berjudul Terminal.

Mendadak aku meneteskan airmata, teringat saat mogok motor dengan ayah 16 tahun lalu. Lagu yang ku dendangkan saat perjalanan pulang kala itu. Aku mendendangkan lagunya lirih sambil menerawang jauh saat masa kecil. Ah ayah, momen mogok berdua dan hujan-hujanan kala itu begitu istimewa rasanya. Terimakasih ayah, atas semua pengorbanannya.

Terimakasih ayah sudah mengajarkan banyak hal dalam hidup ini. Walau tak jarang kami sering berselisih paham, tapi sebenarnya aku sayaaaaaang bgt sama ayah! Ingin rasanya saat itu juga aku kembali ke masa kecilku itu lagi walau itu tak mungkin. Aku rindu sekali, ayah mama adek. Semoga aku bisa pulang ke rumah Jombang akhir Juli 2020 ini, aamiin.



Minggu, 14 Juni 2020

Kamu yang Ku Kagumi dalam Diamku Sendiri

Untuk kamu yang ku kagumi diam-diam.
untuk kamu yang notifikasi pesannya selalu tak terduga, namun selalu membuatku tersenyum lebih lebar dari biasanya.

Aku selalu berusaha menjauhi kerumunan orang-orang yang terang-terangan mengagumimu, bersikap seolah aku tidak tertarik ikut membahas dirimu, padahal dalam diam aku selalu mengucap doa mungkinkah kamu jodohku.

Akhirnya waktu itu datang, waktu di mana aku dapat berinteraksi denganmu. Benar kata mereka, kamu amatlah "sempurna" dan di otakku hanya berisi perbandingan-perbandingan tidak sekufu antara aku dan dirimu. Khayalanku tentangmu begitu indah namun pikiran mana mau kamu denganku yang seperti ini selalu menyadarkanku ke titik realita yang semu, hingga saat ini berangan-angan tentangmu saja aku begitu malu.

Kamu memang baik, tak perlu ku ceritakan detail kebaikanmu di postingan blog yang rentan bebas dibaca orang dekat yang mungkin dapat menebak jika tulisan ini untuk dirimu. Kamu baik sekali, kebaikan yang dapat tulus ku rasakan sendiri. Aku selalu bersikap biasa saja denganmu, walau setiap sujud selalu mengharap ridho Allah dan berharap doaku tentangmu menjadi kenyataan suatu hari nanti.

Lalu mengapa aku menulis blog ini? Seringkali, untuk mengingat suatu hal, aku selalu menuliskannya. Dengan membaca tulisanku sendiri akan sesuatu, selalu membantuku mengingat kepingan memori yang bisa saja aku lupa di kemudian hari. Aku menulis ini, mungkin untuk tertawa jika nanti ternyata perasaanku sudah tak tertuju padamu lagi. Atau mungkin aku menangis bahagia jika ternyata sosokmu yang begitu ku idamkan, ternyata nyata menjadi partner kehidupan.

Katamu kau tak berharap? namun kenapa selalu mengucap doa?
yah bukankah kita senantiasa hidup karena senantiasa ada harapan sebagai pemantik untuk bertahan hidup?

Thx u mas


Senin, 08 Juni 2020

DOA YANG KESAMPAIAN, NAMUN........................HIKS

DAMN!

Mataku nanar ketika melihat Kereta Argo Wilis rute stasiun Gambir Jkt- Stasiun Gubeng Jkt masuk dalam daftar kereta yang dibatalkan. Tak sadar aku langsung menangis sembari memeluk handphone bututku. Ku telpon orang tuaku, tapi tak ada satu pun yang mengangkat. YAAAAA EMANG GAK ADA YANG ANGKAT ORANG ITU JAM 1 PAGI

Iya, aku menangis dini hari, patah hati rasanya. Namun, masih lebih sakit melihat kamu dengan yang lain.

Akhirnya aku lakukan refund saat itu juga dengan meracau dan merutuki nasib. Nyalahin corona, pemerintah, nyalahin tiongkok, wes semua serba salah deh. Walaupun aku lebih menyalahkan diriku sendiri yang kenapa tidak keburu pulang sebelum akses ditutup. Aku terlalu takut jika tiba-tiba disuruh ke kantor untuk hal penting, tiba-tiba ada kepentingan di Jkt, dan pikiran kalau tiba-tiba ada urusan lainnya. Nyatanya enggak ada yang nyariin kamu juga kok, Rin. Selaaawww kamu enggak penting, Rin wkwkwkwkwwk sad.

TERINGAT AKAN DOA YANG DIPANJATKAN

Pagi itu, aku lupa hari apa, yang jelas itu weekend saat aku libur bekerja. Aku sedang merapikan essay beasiswaku yang tidak ada bobotnya ini. Lalu pikiranku menerawang tentang doa yang ku panjatkan saat Ramadhan tahun lalu. Iya aku ingat sekali, aku berdoa semoga tahun depan a.k.a tahun 2020 ini aku sudah pindah ke negara lain untuk belajar dan bersedih karena tidak dapat pulang saat lebaran. Tidak pulang saat lebaran kala itu ku pikir sangat edgy dan keren sekali bagiku yang selalu berkumpul bersama keluarga tiap hari besar.

TAPI KAN AKU BERDOA TIDAK PULANG LEBARAN KARENA BELAJAR DI NEGERI ORANG, BUKAN KARENA KENA TUTUP AKSES CORONA DI JABODETABEK WAKAKAKAKAKAKAK

iya, Allah memang mantap kali jika mengabulkan doa hambanya. Sesuai aja gitu. Karena usahaku kuliah master ke luar negeri belum sesuai, oleh Allah ditunda dulu itu cita-cita berlebaran di luar negerinya dan diganti berlebaran di Depok. DEPOK, D.E.P.O.K, DPK

KUALAT KOWE KAPOOKKK

YHAAAA aku memang banyak berdoa tahun lalu dan satu persatu dikabulkan saat ini. Mulai dari bertemu dengan idolaku, Iman Usman sampai sedih-sedih berlebaran di kota orang. Bertemu Iman Usman tuh memang anugerah dan tidak disangka sekali. Namun berlebaran di kota orang juga sangat tidak disangka sekali.
Tapi tak apa, setidaknya aku bisa tidur pagi saat libur, santai-santai nonton warkop dki, drama korea, dan aktivitas rebahan lainnya, tentunya ini tidak mungkin bisa dilakukan jika aku lebaran di rumah. Tapi tetap saja aku rindu rumah karena terakhir meninggalkan rumah tanggal 10 Oktober 2019.


YA ALLAH MAAFKAN HAMBA YANG KALAU BERDOA MEMANG SUKA KELEWATAN

Kamis, 21 Mei 2020

AKU PENGEN PUNYA KAKAK LAKI-LAKI HIKS

AKU INGIN SEKALI PUNYA KAKAK LAKI-LAKI!

Statement tersebut sudah tertancap di benak sejak aku masih Madrasah Ibtidaiyah atau setara sekolah dasar. Iya, aku ingin sekali ingin mempunyai sosok kakak laki-laki, namun nyatanya akulah yang menjadi kakak..perempuan bagi adik perempuanku.

Entah mengapa sedari dulu, aku iri sekali setiap mendengar cerita teman-teman tentang sosok kakak laki-lakinya. Mulai dari sosok baik, penyayang, pelindung adik-adiknya dan beribu kebaikan lainnya. Walaupun yaaaa banyak juga yang merasa tidak suka dengan kakak laki-lakinya karena kakaknya rese, bandel, nakal dsb. Tapi, tetap aku ingin punya kakak laki-laki hiks.

Beruntungnya, saat aku kuliah, aku bertemu dengan beberapa sosok kakak laki-laki yang baik-baik, mereka semua adalah kakak tingkatku di kampus. Aku sayang banget sama mereka, bukan sayang untuk hubungan lawan jenis dalam hal pacaran, ya sayang aja gitu. Senang aja bertemu dan ngobrol dengan mereka. Aku kenal mereka juga karena pernah satu tim lomba public relations yang tak terlupakan. Alhamdulillah, masih keep contact hingga saat ini.

Sampai ketika aku sudah bekerja di salah satu startup yang berkantor di Depok, Jawa Barat. Di sini orangnya baik-baik dan perhatian, beberapa mas-mas juga ada yang udah ku anggap sebagai kakak sendiri wkwk. Tapi ya ga mungkin lah yeuuuuu aku ngomong terang-terangan nanti disangka yang aneh-aneh. Tapi seriusan memang baik-baik, jokes-jokesnya nyambung. Walaupun pada suka bully dan suka pada titip kopi KSK Family mart, tapi orang-orangnya perhatian. Seenggaknya jadi enggak ngerasa "sendiri" kayak pas awal-awal kerja di sini.

Kayak waktu awal-awal announcement kebijakan Work From Home (WFH) karena pandemi corona 14 Maret 2020 lalu. Aktivitas kantor menjadi WFH semua. Namun di hari senin awal WFH, aku harus ngantor ke Tebet karena ada suatu hal penting. Ternyata 2 mas-mas pada bertanya padaku seraya berseru,"Lu ngapain ngantor? kan udah disuruh WFH, emang penting banget kok harus ngantor?"

Kadang ngerasa anget banget di hati ketika ditanyain kayak gitu. Terharu aja gitu karena masih ada yang peduli sama Arinak. Ga jarang mereka selalu mengucap,"Jaga kesehatan ya". Sederhana sih tapi berharga banget buat Arinak. Sering juga dikasi nasehat ini itu secara mereka lebih tua 9-10 tahun lebih tua dari Arinak (mungkin lebih? wkwkwkwkwk)

Seneng banget udah berasa abang sendiri, tapi kadang takut dikira aneh-aneh sama persepsi orang lain kalau aku akrab sama mereka. Terlebih notabene mereka sudah pada punya istri dan anak. Padahal karena saking baiknya mereka, pengen bales kebaikannya dengan akrab sama istri dan anak-anak mereka, itung2 biar punya keponakan ketemu gede wkwkwk tapi ya gitu balik lagi, kan kita tidak tahu persepsi orang. Padahal niat kita tulus tapi bisa aja disalahartikan beda oleh pendapat orang lain.

Sempat sesekali berdoa kepada Allah, kira-kira mungkin enggak sih aku bisa punya kakak kandung laki-laki? wkwkwkkw ya padahal udah tahu jawabannya kalau enggak mungkin, oon beuud pertanyaan kayak gitu masih ditanyakan ke Allah, macem engga ada pertanyaan atau permintaan lain ajeeeee huff

Sekian bacoddd Arinak yang tidak bermutu~ Intinya, aku masih pengen banget punya kakak laki-laki hikssss

Selasa, 10 Desember 2019

Secuil Cerita tentang Arina dan Idolanya


Dulu aku pernah menulis sebuah angan. Ingin rasanya bertemu dengan Kak Iman Usman. Aku juga ingat ketika namaku terdaftar di daftar undangan peluncuran buku masih belajar Kak Iman. Sayangnya aku tak bisa hadir karena jarak Jombang-Jakarta yang mahalnya sekian-sekian.

Hingga ketika aku telah menjejakkan kaki di Kota Depok untuk bekerja. Pikiranku melayang membayangkan aku dapat bertemu dengan Kak Iman. Sempat merasa sok membayangkan suatu hari nanti aku dapat bertemu kak Iman Usman dengan first impression yang membanggakan. Satu stage dengan Kak Iman Usman misalnya. Tentunya jika satu stage, kita setara karena sama-sama penting. Namun, aku hanya tertawa mengingat khayalan gilaku. Bagaimana bisa seorang Arina yang masih anak bawang, mampu mengejar posisi Kak Iman saat ini. Bukan berarti aku pesimistis, namun aku sadar jika semua butuh proses yang tidak sebentar.

Sampai suatu hari, aku melihat Instagram story salah satu influencer di bidang financial yang mengadakan meetup. Tak lama akhirnya aku memutuskan untuk ikut dan bertemu dengan dia. Orangnya begitu ramah dan humble sekali, senang sekali ketika bertemu dengannya. Namun, sempat terbersit pikiran, “Kapan aku ketemu kak Iman Usman?”

Sampai dua minggu berselang, akhirnya aku dapat melihat sosok itu, sosok yang aku kagumi 2 tahunan terakhir. Aku mendengar gema suaranya yang selama ini hanya aku dengar dari Instagram atau youtube. Aku hanya terpaku di depan lift ketika melihat sosok berkemeja putih sembari membawa jas abu-abu. Rasanya seperti mimpi ketika aku dapat melihat sosoknya hanya beberapa jengkal saja.

Selasa, 3 Desember 2019
16:21 wib
Rasanya punggungku sakit sekali. Beberapa hari ini juga aku tak bisa tidur nyenyak. Bukan insomnia, namun setiap tidur aku selalu bermimpi tentang kerjaan di kantor, bangun tidur rasanya pusing sekali. Aku rindu momen ketika aku dapat deep sleep. Aku rebahan sebentar di pojok ruangan karena merasa otak dan fisikku lelah sekali. Sampai pada akhirnya, handphoneku berbunyi tanda notifikasi Instagram.

Ku lihat ada DM dari Skill Academy by Ruangguru. Ku lihat isinya mereka meminta nomor kontakku. Tak lama, aku ditelfon oleh sosok yang memperkenalkan diri sebagai Mbak Naya. Mbak Naya menanyakan kepadaku tentang pengalamanku memakai produk dari mereka. Ya, aku jelaskan saja sampai akhirnya mbak Naya menawarkanku untuk ikut syuting Skill Academy. Aku terhenyak kaget, kok bisa? Sampai mbak Naya berkata,”Pasti ada Kak Iman Usman juga lho kak”
Rasanya linglung, cemas namun excited. Bagaimana bisa tawaran ini datang sepersekejap saja? Akhirnya aku bertekad menyelesaikan tumpukan pekerjaanku agar hari H nanti aku bisa izin dengan tenang.

Kamis, 5 Desember 2019
15.30 wib
Sepanjang perjalanan kereta Stasiun Depok Baru – Stasiun Gondangdia, aku tak bisa membayangkan bagaimana aku nanti. Hingga akhirnya aku sampai di tempatnya dan naik ke lantai 3, tempat syuting skill academy. Di sana aku melihat untuk pertama kali sosok yang memenuhi history instagramku. Ingin rasanya ku angkat handphone untuk mengabadikan sosoknya diam-diam. Namun aku ragu, tak sopan rasanya jika aku melakukannya diam-diam namun bagaimana pula aku mendekatinya? Bagaimana pula aku mendekat untuk berfoto jika aku saja tak mampu berucap apapun.

IT’S SHOW TIME!

Syuting sesiku dimulai. Aku syuting untuk segmen terakhir. Dalam satu frame, terdapat pembawa acara, aku dan 2 user lainnya dan Kak Iman Usman.

Iya, kak Iman Usman!

Kami ber5 satu frame. Rasanya aku ingin gulung-gulung saja melampiaskan perasaan aneh yang membuncah sejak mbak Naya memberiku tawaran untuk syuting. Kak Iman sempat melontarkan beberapa pertanyaan padaku sebelum sesi take dimulai. Aku masih ingat sebuah tatapan antusias ala Kak Iman kepada setiap lawan bicaranya. Aku masih ingat tatapannya saat mengobrol sebentar denganku. Ingin rasanya aku melihat kak Iman terus namun di sisi lain aku tak dapat menyembunyikan rasa malu dan insecureku.

YA ALLAH, INGIN KU MENANGIS

Bagaimana bisa, harapan receh seorang Arina, dikabulkan dengan cepat. Kamu pernah berharap satu stage dengan Kak Iman kan, Arina? Iya kamu sekarang satu inframe dengan Kak Iman.
Iya kamu masih anak bawang, tapi nyatanya kamu satu inframe? Bukankah Allah mengabulkan harapan setengah hatimu dengan scenario yang sempurna, tanpa perlu tunggu waktu lama?

Bayangin aja kalau nunggu kamu sukses dahulu, ga ketemu2 dong sama kak Iman Usman wkwk

Kamis, 5 Desember 2019
22.47 wib. Stasiun Gondangdia
Aku masuk ke Stasiun Gondangdia dengan setengah berlari. Aku merasa langkahku begitu ringan ketika menaiki tangga…..eskalator. Yaiyalah ringan, wong naik eskalator wkwkw
Sembari menunggu kereta terakhir menuju Depok, aku masih membayangkan momen-momen indah tadi. Saat aku berfoto dengan Kak Iman sembari menawarkan diri untuk membantunya di Beasiswa Iman Usman batch 2. Aku terus memandangi foto kami berdua di handphone sembari tetap awas melihat jam kereta yang akan berangkat.

Jumat, 6 Desember 2019
06.00 wib. Kamar kos
Aku sudah bangun sedari subuh tadi, dan sekarang masih gegoleran santai sembari memandang fotoku dengan Kak Iman Usman. Tidak ada yang berubah, hanya saja Kak Iman tersenyum begitu manis, padahal dia sudah syuting sejak siang dan pasti lelah sekali. Namun masih mau meladeni sesi foto bersamaku, Arina si anak bawang

Sebenarnya aku masih amat lelah sekali karena sampai kosan cukup larut, namun aku harus bangun karena ada meeting dengan bosku pukul 8 pagi. Hanya saja pagi ini aku merasa semangat sekali, entah semangat dari mana. Yang jelas ketika aku mengeluh lelah, mantra ”Malu sama kak Iman, udah jangan ngeluh” ku bisikkan, dan voilaaa aku semangat lagi

Terimakasih Kak Iman, sosok kakak yang senantiasa menginspirasi. Semoga kita bertemu lagi di waktu dan kesempatan yang tepat. Semoga Kak Iman baik-baik selalu. Anyway, aku sangat menunggu untuk bisa membantumu di Beasiswa Iman Usman.
Xoxo