"gue gak percaya kalo elu introvert", ungkap seorang teman
Ya sebenarnya itu adalah kalimat yang sering ku dengar. Tak ada yang percaya jika seorang Arinak adalah introvert, ya bahkan aku pun juga tak percaya pada akhirnya, sampai akhirnya aku membaca sebuah keterangan tentang apa sebenarnya introvert itu, dan akhirnya aku mengakui jika aku memang lebih condong introvert, hmm meski sebenarnya bisa dibilang hampir seimbang, hampir ambivert.
Aku ingat, sedari kecil, aku mudah lelah jika berkumpul dengan orang banyak. Bukan berarti aku tak suka bertemu orang, tapi lama-lama energiku terkuras dan butuh menyendiri untuk mengisi energi kembali. Aku juga cenderung menyembunyikan emosiku yang sebenarnya dari khalayak ramai.
Karena aku tinggal dengan mbah uti (nenek) di kotaku sedari kecil, setiap lebaran banyak keluargaku pulang kampung ke rumah kami untuk mengunjungi mbah uti. Aku senang saat saudaraku berkunjung, namun ada momen aku merasa lelah dengan keramaian. Aku sering sekali ketika masih bocah, menangis di maghrib terakhir bulan ramadhan, menuju pergantian idul fitri, entah mengapa ingin menangis saja. Meanwhile, di luar kamarku, banyak saudaraku yang berhahahihi bercanda ria dengan ramainya. Aku juga tak tahu mengapa aku menangis sendiri padahal di luar ramai.
Dididik untuk Ramah ke Semua Orang
Ayah mamaku termasuk tipikal orang tua yang agak memusingkan masalah ini hahaha. Ayah mama pasti akan memarahi habis-habisan di rumah ketika aku ketahuan diam saja, memasang muka masam atau tak menyapa orang-orang yang harus ku sapa ketika di momen berkumpul dengan semua orang. Aku juga dimarahi ketika terlihat menyendiri di kamar, padahal aku hanya lelah melihat banyak orang berkumpul wkwk. Aku tak bermaksud menyalahkan orang tuaku sih, karena ini juga ada manfaatnya juga sih, setidaknya dapat bersosialisasi dengan baik di masa depan.
Kurang adanya Privacy Space
Sebagai anak yang tinggal dengan orang tua dari bayi hingga sekolah menengah atas, ya tentunya aku tinggal di rumah sendiri. Hanya saja, ketika di rumah, ayah menerapkan peraturan jika kamar tidur tidak boleh ditutup pintunya, harus senantiasa terbuka. Aku tak paham sebenarnya mengapa harus begitu, hanya saja aku pernah mendengar ayah berkata demikian.
Aku juga ditegur ketika terlalu lama beraktivitas di kamar haha. Pada saat kuliah di Kota Malang dan ngekos sendirian, aku benar-benar merasakan sendiri bagaimana nikmatnya sebuah privacy. Terkadang, kita perlu sendirian melakukan apapun yang kita suka setelah lelah beraktivitas. Atau mungkin bebas jika tak melakukan apapun sama sekali saat sedang santai / istirahat?
Suka Pergi Sendirian
Aku sebenarnya baik-baik saja jika harus bepergian sendiri atau dengan orang lain, tak ada masalah. Hanya saja, aku cenderung tak enak hati jika ternyata teman bermainku kurang suka dengan tujuan yang sudah aku atur, padahal jika keluar bersama ya harus senang bersama kan ya. Sehingga aku lebih sering pergi kemana pun sendiri.
Saat masih kuliah, aku sering berkeliling tanpa tujuan hanya untuk melepas penat. Menyenandungkan beberapa lagu yang ku suka sambil merasakan pipiku diterpa angin~ elahh haha
Saat bekerja di Surabaya, tak banyak waktu yang ku habiskan untuk berkeliling karena aku masih takut berkeliling Surabaya. Ketika bekerja di Depok, Jawa Barat aku cenderung main sendirian ke Jakarta. Bukan main yang gimana-gimana sih, hanya makan di tempat favorit, ke perpustakaan nasional, Erasmus Huis, ke mall, toko buku dll
Aku juga pernah mencoba rute KRL dari Bogor - Jatinegara - Bogor hanya untuk iseng saja. Duduk diam berkontemplasi wkwkwk sembari melihat ke luar jendela. Begitu juga halnya denganku yang berkeliling bolak balik di MRT atau Transjakarta. Aneh memang, tapi ya gimana dong aku suka.
Tentang Introvert seorang Arinak
Buatku, Introvert bukan tentang kita yang selalu menyendiri, selalu pendiam, pemalu, tidak berani speak up dan hal-hal negatif yang disematkan bagi penyandang gelar introvert ini.
Buatku, kita semua bisa saja ramah dan ceria di luar, namun berkeluh kesah memikirkan banyak hal saat malam hari, atau melepas lelah karena seharian bertemu dengan manusia. Itu semua normal. Sebagai introvert, boleh saja bersuara atau menunjukkan kemampuan diri kita yang sebenarnya, tanpa senantiasa making excuse di balik embel-embel "aku kan introvert. Tidak ada yang salah menjadi introvert, karena itulah diri kita sendiri. Namun, yang salah adalah ketika kita justru menjadikan hal alamiah dari diri kita menjadi penghalang kita untuk berkembang menjadi lebih baik.
tidak ingin bersuara karena merasa dirinya introvert, padahal itu bukan introvert, itu hanya rasa malu.
cuek dengan sekitar karena merasa dirinya introvert, padahal itu bukan introvert, itu hanya rasa tidak peduli.
you can be what you wanna be, everything
Lalu apa maksud tulisan ini? gatau, hanya iseng saja sebenarnya haha.
Lebih ingin mencurahkan apa yang di pikiran saja setiap mendengar statement tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar