Entah mengapa, di umurku yang sudah seperempat abad, aku suka sekali menonton korean drama tentang pasangan yang sudah berkeluarga. Lebih tepatnya, aku menyukai drama yang berjudul Go Back Couple (2016, kalau tidak salah) dan 18 Again (Sept 2020, sedang on going ketika postingan ini ditulis)
Kedua cerita dan plot drama itu hampir mirip, karena sutradaranya juga sama. Intinya, ada sepasang suami istri yang punya beberapa masalah selama pernikahannya, lalu salah satu dari mereka bahkan keduanya diberi kesempatan untuk kembali masa lalu di masa sebelum mereka menikah.
Dunia Pernikahan itu..
Buatku, dunia pernikahan memang tidak semudah itu. Dunia orang dewasa saja lebih problematik, ditambah dewasa kemudian menikah. Aku teringat pada saat masih bocah, aku mencuri dengar ayah dan mama yang bertengkar kecil atau bahkan bertengkar tanpa bertegur sapa, walaupun setelah itu mereka akur kembali. Sebagai seorang anak, tidak enak rasanya melihat hal seperti itu. Hingga akhirnya aku sendiri telah sampai pada umur 25 tahun, katanya umur ini sudah memasuki umur siap nikah secara fisik bagi perempuan, hmm namun belum tentu secara mental.
Di satu sisi, aku ingin menikah hanya karena teman-teman sekitar sudah menikah, namun ada titik di mana aku berpikir apakah aku sanggup dan sudah siap terjun ke dunia pernikahan. Alih-alih bicara soal sanggup atau siap, yang diajak menikah saja belum ada, HAHAHAHAH.
Tentang Kedua Korean Drama tadi..
Di Kdrama Go Back Couple, pasangan itu sama-sama kembali di masa lalu saat mereka pertama kali bertemu. Karena tahu diberi kesempatan untuk kembali, mereka memuaskan diri untuk mendekati incaran masing-masing di masa lalu dan bersikeras untuk menghindar satu sama lain. Alih-alih mereka berpisah, ternyata mereka justru banyak mendapat kenyataan-kenyataan baru yang membuka mata mereka soal hubungan pernikahan selama ini. Iya, saking seringnya salah paham dan tidak mau mendengar hati ke hati, mereka kehilangan esensi kasih dalam pernikahan mereka. Wallaaaa setelah sadar akhirnya mereka dapat kembali ke masa mereka sudah menikah.
Beda halnya dengan Kdrama 18 Again. Pasangan ini tidak kembali ke masa lalu, namun salah satu pasangan ini (pihak suami) justru kembali muda di masa saat ini dan bahkan satu sekolah dengan anak-anak mereka. Istri tetap menjadi pada umurnya dan tidak mengetahui jika suaminya telah berubah karena mereka sudah pisah rumah beberapa waktu (aku nonton masih ep 7 jadi istri belum tau, entah jika di ep selanjutnya ternyata sudah terungkap)
Namun, plot cerita 18 Again ini hampir sama dengan Go Back Couple, ternyata banyak hal yang tidak kita ketahui dari pasangan, bagaimana tentang mengucapkan bahasa cinta satu sama lain, dll
Eh tapi aku belum tahu endingnya bagaimana ya.
Namun, aku menangis di beberapa episode karena merasakan tentang susahnya jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak seperti itu. Permasalahan orang dewasa dipadu dengan masalah pernikahan, beuh.
Tentang Dia, yang selalu peduli..
Walaupun single bertahun-tahun, namun bukan berarti aku tidak memiliki tambatan hati *ciyeilah tambatan hati. Aku punya seseorang yang sudah ku kenal sejak akhir 2013. Total 7 tahun kami berteman dan mengenal satu sama lain. Entah mengapa, meski tidak terikat hubungan resmi pacaran atau pernikahan, aku merasa nyaman dengannya, mungkin karena dia sudah tahu banyak kekurangan, keburukan dan kelebihanku. Ya, aku mencintainya, namun sepertinya dia tidak haha. Tapi dia tetap jadi teman baikku.
Aku pernah ada di titik begitu membenci dia, karena aku merasa kalau aku telah banyak berkorban sedangkan dia tidak. Namun, melihat Go Back Couple itu (aku baru nonton tahun 2018) seketika menyadarkanku kalau hubungan tidak melulu tentang diri kita sendiri. Setiap aku jengkel padanya, aku selalu berusaha mengingat kebaikan-kebaikannya dan pengorbanannya padaku. Aku berusaha bertanya bagaimana kabarnya (ya, aku tak pernah bertanya bagaimana kabarnya, karena ku kira kita selama 4 tahun bertemu setiap hari dan saling follow sosmed masing-masing, jadi ya saling tau kabar dong harusnya. ternyata aku salah), bagaimana harinya di tempat kerja hari itu, mendengarkan dan menvalidasi keluh kesahnya dan berterima kasih padanya setiap dia melakukan sesuatu untukku.
Pada akhir 2019, aku sempat berusaha bertanya kepada dia tentang bagaimana hubungan ke depannya, namun ternyata tidak ada yang harus digimanakan karena kita memang berteman. I'm okay with that, justru aku lebih lega saat ini karena sudah jelas semuanya, meski kita harus saling membatasi dalam berkomunikasi.
Jujur, aku sempat kehilangan sosok yang terbiasa mendengarkan keluh kesahku dan ku tanya-tanya terkait apapun. Aku tak bisa menghubunginya karena sudah berjanji untuk saling membatasi diri. Hingga ada momen, hubungan pertemanan kita sedikit cair kembali, meski tidak sama seperti dulu lagi. Aku sadar jika cairnya hubungan pertemanan ini karena masing-masing dari kita sudah sama-sama dewasa. Iya, dia orang baik dan dewasa, ehmm yg terbaik yang pernah ku kenal hingga saat ini.
Aku mulai sedikit bisa bercerita tentang apa yang menimpaku di tempat kerja, apa kesedihan yang ku rasakan, dll. Ia tetap seperti dahulu, tetap mendengarkanku, dan ituu sangat-sangat membuatku jauh lebih baik. Hingga ada masa di mana aku harus berhenti kerja di tempatku saat itu, dan aku mengirim pesan WA kepada dia bahwa aku harus berhenti kerja. Bukan pesan yang sedih, aku menganggap lay off, phk dll adalah hal wajar bagi pekerja, aku hanya menghubungi dia kali aja dia dapat memberi informasi lowongan kerja baru untukku.
Namun, detik itu juga, dia menelponku dan bertanya bagaimana perasaanku. Aku menerima telpon darinya di dlm kamar mandi kantor dan aku menangis terisak-isak di sana. Padahal tadi saat diumumkan aku tidak bisa lanjut, aku merasa biasa saja dan tidak menangis, sedih sewajarnya. Entah mengapa, Ia membuatku nyaman untuk bercerita hingga aku menangis, mengeluarkan segala kekesalan yang selalu ku tahan-tahan dalam diriku.
Iya, dia ada untukku, selalu ada untukku di saat aku benar-benar membutuhkannya.
Dia pasti selalu menelpon tiap aku memulai sesi curhat dengan mengirimkan teks panjang-panjang. Mungkin lebih mudah baginya mencerna omonganku daripada pesan yang ku tulis, yang tentunya ku tulis secara emosional dan tidak beraturan.
Pada drama 18 Again ep 7, ada scene yang menceritakan bahwa sang suami melihat jika istrinya yang bekerja sebagai reporter dan bekerja di luar ruangan, merasa kesusahan karena dibentak-bentak oleh kru. Pada malam hari, sang suami melihat istrinya terlihat stres dan lelah lalu sang suami menghibur istrinya dengan menyebut,"kerja bagus hari ini"
Seketika muka sang istri berubah dan berkata,"bolehkah kau mengulangi lagi perkataanmu tadi?"
Tangisku langsung pecah ketika melihat scene ini. Entah mengapa begitu related dengan diriku dan dia, meski kita bukan sepasang suami istri.
Entah mengapa, bercerita padanya, cara dia peduli, mendengar suaranya, tertawa bersamanya cukup memberikan energi positif dan kekuatan sehingga aku selalu merasa lebih baik setelahnya. Sejengkel-jengkelnya aku, aku selalu luluh melihat apa yang dia lakukan padaku. Sejauh apapun aku berusaha mencari orang lain untuk menjadi pengganti, entah mengapa aku merasa jika cuma dia yang mengerti perasaan dan tingkah laku Arinak luar dalam.
Terima kasih sudah selalu peduli, dan paling mengerti. Kadang aku berharap, apakah aku tidak bisa memohon kepada Allah, jika aku ingin suami seperti dia saja, cukup dia saja yang dengan rela ku terima sepaket kelebihan kekurangannya. Cuma, ya sudahlah. Saat ini, ada dia yang peduli saja sudah cukup untukku.
Thank you, temanku yang baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar