my profile

Rabu, 31 Januari 2018

Mungkinkah? Part 4

Semakin hari, aku semakin dekat dengan Indra. Bagiku, aku tak tahu siapa yang memulai lebih dahulu. Hanya saja entah mengapa kami selalu berdua kemana-mana ketika di kampus. Aku pun tak tahu, jujur aku jadi ingin bersamanya terus. Seolah gayung bersambut, pun dia juga senantiasa menghampiriku. Ketika di lorong kelas, di kantin, di perpustakaan, di musholla kantin, semuanya. Aku bisa berbicara apa saja dengannya, bahkan tertawa bersama. Tentu saja kedekatan kami di kampus mulai dibicarakan teman-teman sekelas.

Pada hari itu, dengan agak terburu-buru aku berlari di tangga gedung kuliah bersama untuk mengejar kelas pagi. Ketika sampai di ujung lorong, aku melihat teman-temanku sedang duduk lesehan di depan kelas yang tampaknya masih terkunci. Nampaknya kelas pengantar Antropologi tidak ada kelas lagi. Aku langsung berbaur dengan mereka duduk di lantai dengan sedikit ngos-ngosan. Dasar gendut, nafasnya pendek hahaha.

"Rek, Kelas Antropologi kosong lagi ya, ini sudah lewat 15 menit. Tadi aku sudah konfirmasi ke Kantor Jurusan katanya memang kosong", Ujar Dadan, Ketua Tingkatku sambil mengatur nafas. Nampaknya dia baru saja berlarian dari kantor jurusan di lantai 6 ke lantai 5 kelas kita ini.

"yeeee kosong lagiiii"
"yeee sarapan yuk laper"
"yah percuma eike mandi cyiinn"
"iyeee, sayang ya sama make up"
dan beberapa gerutuan serta sorakan teman-teman sekelasku lainnya

Aku yang masih betah duduk di lantai sambil tertawa melihat sekeliling teman-temanku, tiba-tiba dikagetkan oleh Indra yang sudah menggeser pantatnya tepat di sampingku.
"Yah, kosong lagi", katanya sambil memasang muka ditekuk
"Haha, enak lah kosong gimana sik", kataku
"Duh kalian yaaaa, selalu nempel terus, pengen deh uhhhh", ujar Andro, salah satu teman sekelas kami, dia cowok tapi sangat "lembut", haha.
"Hehehe", aku hampir kehabisan kata-kata sekaligus kaget, dan takut.
*****
Di Rumah kos salah satu teman cewek
Nampaknya, main ke kos teman sesama jenis adalah salah satu diplomasi pertemanan. Tidak hanya mengisi waktu luang ketika jam mata kuliah sedang kosong dan kegiatan mahasiswa baru yang belum memulai, kita juga bisa menambah teman, itung-itung mulai menempatkan diri kita ingin berada di geng atau squad yang mana. Haha, ternyata seorang Widya pun tak punya geng khusus hingga akhir.
Disini kita bisa membicarakan banyak hal, mulai dari ngomongin teman sesama cewek, ngomongin lawan jenis, drama korea daann juga ngomongin....
"Eh Wid, kamu itu gimana sih ceritanya sama Indra?"
"Iya kalian deket banget lho"
"Sumpah ya cara Indra menatap kamu sama menatap temen cewek yang lain itu beda"
"iya iya bener kelihatan banget"
"sebenarnya perasaanmu gimana say?"
aku awalnya kaget mendengar berondongan pertanyaan ciwi-ciwi ini dan tak bisa menahan tertawa.
"yah salah tingkah dia"
"iya deh beneran kamu suka ya sama dia?"
"Heh gatau aku", akhirnya ku buka suara, sambil tersenyum, entah mengapa aku tak bisa menyembunyikan suatu hal yang membuncah gitu. Apa memang iya aku suka?
"gak, kelihatan banget Wid"
"iya-iya terserah", jawabku
"Tapi suka gak?", temanku masih tak menyerah untuk mendesakku menjawab dengan suatu kata yang bisa dikuantifikasi
"mungkin hehe", jawabku akhirnya
"Naaaahh ya kaannn", sorak temanku ramai. Gimana gak ramai, 6 orang dalam kamar dan semuanya wanita haha
"Udah pernah jalan kemana aja?", tanya mereka lagi
"Belum, hanya aku jadi mau makan nasi padang", jawabku
"Eciye, mentang-mentang doi dari Padang jadi suka nasi padang ini?",
"yee habis enaaakk",kataku
"Jangan diciyein lah, nanti kalau orangnya menjauh bagaimana?", kataku
"hmm gak kok gak bakal deh", kata mereka lagi

Sebenarnya dari dalam hati, aku takut terlibat dalam perasaan yang terlalu dalam, Rasanya mungkin berbunga-bunga di awal, namun pahit berkepanjangan di tengah hingga entah sampai kapan. Bahkan awalnya aku tak mau terlalu memperhatikan perasaanku, tapi jika banyak yang membicarakan hal itu, entah mengapa semuanya makin bergejolak. Benarkah dia juga begitu? 

Senin, 29 Januari 2018

Direct Message Dibales sama Gita Savitri?

Hallo, selamat pagi, siang, sore dan malam untuk teman-teman semuanyah yang baca postingan ini. wkwkwk sok-sokan adlib awal radio ppi dunia nih hahaha.
selagi mau edit draft cerita mungkinkah part 4 dan part lainnya, pengen banget nulisin hal ini, haha. Alay sih emang, tapi gimana dong aku suka sih xD

kalian tau Gita Savitri Devi ga sih? entah mengapa di circle aku, mbak-mbak selebgram dengan akun @gitasav ini terkenal banget. Aku pun awalnya tahu dari mereka sih, lihat vlog nya satu persatu, gak cuma daily vlog atau beauty vlog nya aja. Aku suka juga konten beropini dia. Yupp entah kenapa mahasiswi Indonesia di Jerman satu ini selalu punya opini yang sepemikiran sama aku.*duhh Rin kok ge'er banget sih Hahahahah
HAHA gak kok, but seriously aku ngerasa apa yang aku yakini terhadap suatu isu itu ya kurang lebih sama lah kayak yang dibilang Gita. Bedanya, dia berani menyuarakan tanpa takut pro kontra gitu. Di akun Instagram nya dan di Youtube nya.

Sedangkan seorang Arina, ketika mulai beropini terhadap suatu hal di Instastory, mendadak jadi insecure, takut kalau salah omong. Kok beropini, kadang upload apapun di instastory kok kayaknya insecure pula. Kalau posting yang receh-receh karena aku suka hal-hal lucu,mendadak takut aja gitu sama penilaian ,
"Dih Arina ini tukang Instastory mulu, gak ada kerjaan apa"
"Iya gak mutu, nirfaedah banget"
"Ya Allah perempuan postingannya gini"
klo kebetulan posting lagi di cafe, atau nonton atau makan yang agak mewah gitu (believe me, itupun karena Arina dibayarin ajah. Sekarang kalo nurutin nongkrong nyari kesenangan mulu ya jebol dompet sist, kapan nabungnya? :') )
"Dih gak sederhana banget jadi wanita"
"Iya boros banget gak cocok dijadiin istri"
"mbok ya kalau perempuan baik itu di masjid dan kajian, bukan di cafe ketawa-ketawa"
hiks hiks, kalau ini insekuritas dari pandangan cowok-cowok sih. Duh ilang sudah kesempatan untuk dimasukkan list calon ibu buat anak-anaknya haha
padahal biasanya aku pun belanjanya di pasar, makannya masak sendiri tahu tempe ala kadarnya wkwkkwkwkw.
EH TAPI ITU INSEKURITAS DARI DALAM DIRI YA, bukan literally orang bilang gitu ke aku. Ya ada sih yang pernah bilang aku nge-story mulu dan gak berfaedah wkwk. Tapi selebihnya gak seperti itu kok, teman-temanku baik uwuwuwuwuwu
but beneran sih pernah dulu aku posting lagi baca buku tentang islamic issue gitu. 3 hari kemudian aku baca buku tambahan yang judulnya emang agak provokatif sih tapi isinya gak gitu deh sumpah. Judulnya, "Bagaimana jadinya dunia tanpa islam?". Itu justru buku penelitian yang membuktikan kalau ada tidaknya Islam, itu dunia tetap perang, tetap ada terorisme dan radikalisme. So, don't judge the book by your cover lah yeu sist/gan
gak lama kemudian ada yang kirim Direct Message di Instagram kira-kira isinya,"Lho Rin bukannya kemarin kamu baca buku tentang islam gitu ya? kok sekarang gini?"
ya Allah ingin menangis rasanya. nangis karena gini banget ya penilaian orang, untung yang ini ngomong, kalo yang menduga-duga doang? sedih hiks

BAH! kamu mau cerita apa sih heh? gak langsung aja ribet banget!
ya intinya itu, aku orangnya suka insecure dalam menyampaikan sesuatu. Takut inilah, itulah dan aku seneng banget kalau seorang Gita Savitri ini berani banget. Pro dan Kontra gak cuma sekali dia dapat. Ya, namanya suatu konten opini pasti ada aja lah dua kubu bahkan multiple kubu. Mungkin seorang Arina aja yang masih belum kuat dicaci. But, aku gak anti kritik kok, kalau anti kritik aku marah, tapi ini aku cuma takut salah wkwkwkwk. Tolong jangan dibully, aing newbie mas mbak wkwkw

Sore ini aku mendapati postingan instastory seorang Gita Savitri tentang pemberitaan di salah satu akun islam gitu. Di akun islam itu me-repost tentang bagaimana salah seorang muslim di Dresden, Jerman diperlakukan gak enak disana.Gak boleh Sholat di suatu ruangan tempat dia bekerja dan akhirnya dia memutuskan untuk cabut dari tempat kerjanya. Sebenarnya aku tahu siapa orangnya bahkan aku tahu postingan aslinya di akun facebooknya. Terlebih beliau pernah booming juga tahun lalu karena membuat surat balasan buat postingan anak SMA dari Banyuwangi kala itu yang sempat booming juga. Duh mau lah aku jadi booming juga HAHAHAGAKKOK, Aku juga tadinya ingin menunjukkan link dan postingan yang bersangkutan. Cuma enggak deh wehehehehehehehehhecariamanwehehehehe. Yaudah cukup tahu saja yah.

Dan aku pada saat itu entah kenapa DM kak Gitasav ini (dipanggil kakak karena dia lebih tua dari aku weheheh), bertanya siapakah orang itu, apakah seperti orang yang kupikirkan, kemudian aku beropini begini begitu. Kurang lebih sama seperti opini kak Gitasav yang perlakuan seperti itu memang jarang banget, 1:1000 lah. Selain itu bagaimana kita membawa diri juga penting sih. Ibaratnya dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung. Misal ternyata "langit kita" beda banget sama langit dimana kita singgah, kurangi sedikit ego dan hormati, cari cara bagaimana kita tetap bisa menunaikan hak kita dan tetap menunaikan tanggung jawab. Toh, aku juga punya beberapa kenalan yang kuliah di Luar Negeri. Awalnya susah namun lambat laun mereka baik-baik saja. See? apparently it depends on the way we put ourself in society. 
"ELAH RIN, kayak kamu pernah hidup di luar negeri"
heheh iya sih gak pernah lama di luar negeri, paling lama cuma 2 minggu itupun di Malaysia yang dominan muslim pula. Makanya ini lagi berusaha mewujudkan mimpi kesana, doakan yaaaaaaa love  youuu
Beginilah DM nya, yang atas gausa diliatin yah haha

Trus ya, aku DM seperti itu gak berharap dibalas sih. Dibaca aja syukur kan. Ternyata dibaca dan dibales dong, duuuuhhhhhh aapalah Arina yang receh ini dibalas seorang Gita Savitri wkwkw
mungkin di luar sana dia juga udah sering bales komen, DM atau apalah di semua sosial media nya dia. But it was really meaningful for me. Mendadak aku punya kepercayaan diri lagi setelah entah kenapa menghilang hampir setahun lalu. Setelah ini bakal lebih semangat memperbaiki diri dan melanjutkan mimpi. Mau tingkatin belajar ilmu agama lagi agar senantiasa ingat, banyakin baca buku dan melihat isu agar terbuka pikirannya. DAAAANNNN tak lupa harus pede, kurang-kurangi Insecure. Insecure itu berat, mending selow aja HAHAHAHHA (mau ala-ala Dilan but gagal).

Last but not Least, thank you kak Gitasav
setelah ini mau bkin konten beropini juga ah di Blog.
love you semoga kita bisa ketemu suatu hari nanti. xoxo


Mungkinkah? Part 3

Semenjak saat itu, sebut saja Aku dan Indra menjadi teman baik. Definisi teman baik dengan teman biasa menurut seorang Widya disini adalah yha mereka yang lebih intens berkomunikasi daripada lain yang mungkin hanya sebatas basa-basi atau say hi! saja. Kalau mau dibilang teman akrab, ya belum lah, baru juga kenal beberapa hari.
ini bukan kali pertama aku mempunyai teman laki-laki. Mungkin jika dijumlah teman lelaki dari taman kanak-kanak hingga detik awal kuliah, jumlahnya sudah ribuan mungkin. Namun hanya segelintir yang amat sangat akrab hingga berpindah level pun. Maksudnya berpindah level disini adalah naik dari SD ke SMP, SMP ke SMA, SMA ke Kuliah. Begitu. iya begitu. Ya bahkan baru aku tau, jika memang itu wajar adanya. Jika kata dosen teori komunikasi di kelasnya, beliau berkata bahwa manusia berkomunikasi karena adanya sebab dan kebutuhan. jika kebutuhan itu telah berhenti atau selesai boleh jadi komunikasi itu akan berkurang bahkan menghilang setelahnya. Ya itulah, people come and go.

Namun disini, aku begitu aneh rasanya, karena bisa akrab dengan sosok laki-laki seperti Indra. Jujur, 2 minggu pertama kuliah bahkan aku tak tahu jika sosoknya yang menurutku agak bad boy itu ada di dalam kelas. Aku bahkan juga tak tahu nama. Tak tahu rupa dan tak tahu nama, lengkap sudah tingkat kecuekan dan kebodohan dalam menghafal nama. Namun mungkin si Widya muda ini tak sadar bahwa seseorang yang bahkan tak pernah dia bisa hafalkan nama dan mukanya ini,bakal jadi sosok yang tak akan pernah bisa terlupa atau bahkan berhenti untuk diperjuangkan. WES A MODAR KOWE GAK ISO MOVE ON

********

Selain kerja kelompok bersama, satu tempat favorit di awal mahasiswa baru adalah perpustakaan pusat kampus. Ya bagiku, ke perpustakaan itu penting. Aku selalu meminjam buku paket yang sesuai dengan mata kuliahku. Kupinjam, kuperbaharui tiap 2 minggu, begitu aja terus. Serta bisa juga baca novel gratis di pojok perpus, sambil leyeh-leyeh. Tampaknya kesukaanku itu diikuti oleh Indra. Aku tak tahu apakah Indra juga meminjam buku paket sepertiku, yang aku tahu kami sering ke perpustakaan bersama dan baca novel di pojokan. Atau bahkan internetan dan mengerjakan tugas dalam perpustakaan. Ya jauh dulu sebelum ada gazebo khusus leyel-leyeh dan internetan di luar perpustakaan, kami memang selalu di dalam perpustakaan.

Aku juga tak tahu, mengapa jokes kita selalu receh. Ada saja yang ditertawakan. Disitu pun aku baru paham hakekatnya tertawa. Tertawa entah kenapa lebih mudah terpatri di hati, jika kita ingat dengan siapa kita tertawa. Ternyata memang terasa lengkap jika tertawa bersamanya atau melihatnya tertawa. seperti pada kasus saat kita mengerjakan tugas kelompok Sosiologi di Gazebo dekat ICT pusat.

"Ndra, liat deh ini siniii", tunjukku pada satu lembar pengumuman kehilangan di dekat gazebo
"Apa?", tanya nya
"Ini lho masak pengumuman kehilangan dompet, yg dikasi foto mas nya yang punya sih, kalau foto KTP atau dompetnya sih masih cocok"
"Iya ya, udah gitu foto background nya di pantai lagi"
"klo pengumuman kehilangan pake foto cowok ini, kayak pengumuman kehilangan pacar/mantan tau ga haha"
"yakaliii, telah hilang mantanku, trus dikasi foto, gitu ya Wid?"
"HAHAHAHAH IYA NDRA gitu dah"
"Ntar aku mau pasang foto Maudy Ayunda deh, ku tulis, Pengumuman, telah kehilangan mantan yang kucinta"
"heleh, ya kaliii Ndraaa HAHAHHA"
kemudian kami berdua tertawa terbahak-bahak gak karuan. Teman kelompok kami lainnya pun hanya bingung dengan ulah kami. Tertawa pun tidak. kalian yang baca pasti gak ketawa kan? HHAHAHA

********

Pembukaan Student Day Universitas

Bagi seorang maba kala itu, entah mengapa banyak sekali kegiatan yang harus dilalui. Melelahkan rasanya. Student Day disini adalah kegiatan di luar hari efektif kuliah, biasanya kompetisi-kompetisi seperti basket, sepakbola, dance, dll. Seleksi mulai dari antar kelas 1 jurusan, antar jurusan 1 fakultas, kemudian yang tertinggi adalah antar fakultas memperebutkan piala rektor. Ya layaknya class meeting saat SMA. Namun aku lebih suka Class Meeting SMA karena pelajaran jadi kosong dan kita bisa pulang lebih pagi, tidak ada pelajaran pula HAHA. Sedangkan acara ini dilakukan hari Sabtu, bahkan ada pula yang hari minggu. Lalu kapan liburnya? ;(

Di pembukaan kali ini, kita harus jalan sehat dulu. Kami sudah berkumpul pagi-pagi untuk bersiap jalan sehat di Hellypad kampus kala itu. Sepanjang perjalanan mengitari kampung, aku dan teman-teman lainnya bercanda dan tertawa. Sampai pada suatu momen yang menjadi titik awal aku memanggil Indra dengan sebutan tambahan berupa "Kakak". Iyeuh banget kan ya haha.
kala itu, sedang booming salah satu film drama Thailand, aku pun lupa judulnya. Yang jelas tokohnya adalah Shone dan Nam. Nam yang awalnya dekil mencintai kakak kelasnya, Shone yang tampan dan baik hati. Walaupun Nam sudah bertransformasi cantik setelahnya, ternyata Shone memang memendam rasa pada Nam jauh sebelum Nam berubah. Kira-kira sekilas seperti itu ceritanya. Pada saat itu entah siapa yang memulai, Indra berjalan di depanku sambil memanggilku dengan sebutan Nam. Aku pun memanggilnya dengan sebutan Kak Shone (nama sebenarnya sosok Indra ini memang agak mirip dengan sebutan "Shone" hehe )
kami saling memanggil dengan aku logat Jawa-Thailand dan dia Padang-Thailand.
Salah satu temanku kala itu cuma ketawa saja melihat tingkah kami berdua. Hai, Kak Shone, mungkinkah aku adalah Nam mu yang bisa bersatu suatu hari nanti ? :')

Minggu, 28 Januari 2018

Mungkinkah? Part 2

Hari ini hari Selasa, 08 Oktober 2013
pada hari ini ada acara kuliah perdana untuk prodi ku, Ilmu Komunikasi
aku jadi bingung, padahal kuliah telah berjalan kurang lebih 1 bulan, tetapi ada suatu event bernama "kuliah perdana" ? haha , membingungkan dan sebenarnya tak perlu untuk dipikirkan...

aku berangkat pagi sekali  dari kosan yang telah ku huni selama 1 minggu di kawasan padat penduduk depan kampus. tak lupa aku mengenakan jaket almamater kampus untuk acara kuliah perdana ini. setelah sampai di tempat acara, kami diarahkan untuk berkumpul dan duduk dengan teman sesama kelas kami masing-masing. beruntung kelas ku mendapat tempat di samping depan, dekat pintu keluar dan di depan, tak terlalu di belakang sehingga bisa leluasa melihat ke depan. aku duduk dengan santai di kursi merah yang nyaman. disamping kanan kiriku juga duduk teman-temanku. dan aku baru tersadar ternyata ada seseorang yang duduk tepat di depanku. Ya, dialah Indra, teman yang ku kenal baru-baru ini di perpustakaan karena kita 1 kelompok untuk tugas matkul pengantar antropologi.
sepanjang acara berlangsung, aku sering mengobrol dengan Indra, bisa kalian bayangkan bagaimana cara mengobrol orang yang duduk di tempat berbeda? yg satu di belakang dan yg satu di depannya? tentulah lucu, hal ini membuat dia terus menghadap ke belakang dengan menyerongkan badannya sedikit. entah mengapa aku suka mengobrol dengan dia, tertawa dengan dia, tentu tidak hanya dengan dia, tapi juga dengan teman yang lain di sampingku.

di kuliah perdana itu kita mendapat banyak materi, terutama perihal peminatan di Ilmu Komunikasi. pertama kali otakku terbersit niat untuk masuk Ilmu Komunikasi adalah, cuma sekedar pengetahuan kalau anak Komunikasi itu ya itu lho mbak-mbak wartawan, atau yang syuting angkat kamera di televisi. pemikiran yang cetek sekali untuk ukuran 4 tahun lalu (yogs, tulisan ini dilanjutkan lagi setelah vakum 4 tahun lamanya dan aing sudah lulus HAHAHAHAHAHAHHABODOAMAT)
obrolan ku dengan Indra tentu mulai dari bahasan peminatan prodi yang ternyata terbagi menjadi 3 mulai dari audio visual, public relations hingga jurnalistik. entah mengapa pada saat itu kita sama-sama tertarik di bidang jurnalistik. just because yhaaa we have no idea with AV and PR wahahahah LOL.
pada saat itu aku lupa tepatnya kapan, hanya saja yang kuingat adalah acara kuliah perdana itu dari pagi hingga menjelang sore, tiba-tiba sosok Indra yang baru kukenal ini menceritakan suka dukanya berjuang menembus persaingan perguruan tinggi negeri hingga dia harus terdampar di hampir ujung pulang Jawa ini, di Malang. awalnya aku kaget karena walaupun aku tipikal perempuan yang curhat sama siapapun, namun aku juga gak mungkin bisa curhat sama orang yang baru kukenal. namun, hei..... kenapa cerita curhatannya mirip sama salah satu alur cerita di salah satu novel kesayanganku kala itu?

"iya Ahmad Fuadi satu daerah denganku, sama-sama dari Padang", jawabnya
oh oh oh okay. yha aku baru saja merekam di otakku tentang salah satu daerah di Indonesia penghasil rendang yang konon makanan terlezat di dunia. ya selama ini aku tahu sih ada namanya Padang, hanya karena tak pernah punya kolega asal sana dari kecil hingga SMA, ya tak terlalu masuk di pikiranku, bahkan aku pun jua tak ingat asal penulis favoritku. dasar payah
"ya bedanya kamu gak mondok di Jawa ya, Ndra", pungkasku
nampaknya kata-kata "Ahmad Fuadi" ini menjadi kata kunci password yang membuat kami klik saat itu. karena kami langsung nyerocos mulai dari alur cerita trilogi nya, keinginan menjadi jurnalis di kantor tempat Uda Fuadi bekerja di Amerika dan keinginan kuliah ke luar negeri. pas sudah...
kami masih asyik ngobrol walaupun posisi duduk kami di pojok dekat sumber suara sound system yang berdentum keras. sesekali ketika dia ngobrol dan aku tidak mendengar, dia mendekatnya wajahnya ke telingaku agar dapat mendengar lebih jelas. dan....serr...
rasanya aneh. HAHA sosok Widya kala itu yang polos tak pernah menyangka jika seperti itu rasanya. maklum dia adalah sesosok jomblo akut yang kesepian. mana tau ngerasain hal aneh seperti itu wahaha.