Semakin hari, aku semakin dekat dengan Indra. Bagiku, aku tak tahu siapa yang memulai lebih dahulu. Hanya saja entah mengapa kami selalu berdua kemana-mana ketika di kampus. Aku pun tak tahu, jujur aku jadi ingin bersamanya terus. Seolah gayung bersambut, pun dia juga senantiasa menghampiriku. Ketika di lorong kelas, di kantin, di perpustakaan, di musholla kantin, semuanya. Aku bisa berbicara apa saja dengannya, bahkan tertawa bersama. Tentu saja kedekatan kami di kampus mulai dibicarakan teman-teman sekelas.
Pada hari itu, dengan agak terburu-buru aku berlari di tangga gedung kuliah bersama untuk mengejar kelas pagi. Ketika sampai di ujung lorong, aku melihat teman-temanku sedang duduk lesehan di depan kelas yang tampaknya masih terkunci. Nampaknya kelas pengantar Antropologi tidak ada kelas lagi. Aku langsung berbaur dengan mereka duduk di lantai dengan sedikit ngos-ngosan. Dasar gendut, nafasnya pendek hahaha.
"Rek, Kelas Antropologi kosong lagi ya, ini sudah lewat 15 menit. Tadi aku sudah konfirmasi ke Kantor Jurusan katanya memang kosong", Ujar Dadan, Ketua Tingkatku sambil mengatur nafas. Nampaknya dia baru saja berlarian dari kantor jurusan di lantai 6 ke lantai 5 kelas kita ini.
"yeeee kosong lagiiii"
"yeee sarapan yuk laper"
"yah percuma eike mandi cyiinn"
"iyeee, sayang ya sama make up"
dan beberapa gerutuan serta sorakan teman-teman sekelasku lainnya
Aku yang masih betah duduk di lantai sambil tertawa melihat sekeliling teman-temanku, tiba-tiba dikagetkan oleh Indra yang sudah menggeser pantatnya tepat di sampingku.
"Yah, kosong lagi", katanya sambil memasang muka ditekuk
"Haha, enak lah kosong gimana sik", kataku
"Duh kalian yaaaa, selalu nempel terus, pengen deh uhhhh", ujar Andro, salah satu teman sekelas kami, dia cowok tapi sangat "lembut", haha.
"Hehehe", aku hampir kehabisan kata-kata sekaligus kaget, dan takut.
Pada hari itu, dengan agak terburu-buru aku berlari di tangga gedung kuliah bersama untuk mengejar kelas pagi. Ketika sampai di ujung lorong, aku melihat teman-temanku sedang duduk lesehan di depan kelas yang tampaknya masih terkunci. Nampaknya kelas pengantar Antropologi tidak ada kelas lagi. Aku langsung berbaur dengan mereka duduk di lantai dengan sedikit ngos-ngosan. Dasar gendut, nafasnya pendek hahaha.
"Rek, Kelas Antropologi kosong lagi ya, ini sudah lewat 15 menit. Tadi aku sudah konfirmasi ke Kantor Jurusan katanya memang kosong", Ujar Dadan, Ketua Tingkatku sambil mengatur nafas. Nampaknya dia baru saja berlarian dari kantor jurusan di lantai 6 ke lantai 5 kelas kita ini.
"yeeee kosong lagiiii"
"yeee sarapan yuk laper"
"yah percuma eike mandi cyiinn"
"iyeee, sayang ya sama make up"
dan beberapa gerutuan serta sorakan teman-teman sekelasku lainnya
Aku yang masih betah duduk di lantai sambil tertawa melihat sekeliling teman-temanku, tiba-tiba dikagetkan oleh Indra yang sudah menggeser pantatnya tepat di sampingku.
"Yah, kosong lagi", katanya sambil memasang muka ditekuk
"Haha, enak lah kosong gimana sik", kataku
"Duh kalian yaaaa, selalu nempel terus, pengen deh uhhhh", ujar Andro, salah satu teman sekelas kami, dia cowok tapi sangat "lembut", haha.
"Hehehe", aku hampir kehabisan kata-kata sekaligus kaget, dan takut.
*****
Di Rumah kos salah satu teman cewek
Nampaknya, main ke kos teman sesama jenis adalah salah satu diplomasi pertemanan. Tidak hanya mengisi waktu luang ketika jam mata kuliah sedang kosong dan kegiatan mahasiswa baru yang belum memulai, kita juga bisa menambah teman, itung-itung mulai menempatkan diri kita ingin berada di geng atau squad yang mana. Haha, ternyata seorang Widya pun tak punya geng khusus hingga akhir.
Disini kita bisa membicarakan banyak hal, mulai dari ngomongin teman sesama cewek, ngomongin lawan jenis, drama korea daann juga ngomongin....
"Eh Wid, kamu itu gimana sih ceritanya sama Indra?"
"Iya kalian deket banget lho"
"Sumpah ya cara Indra menatap kamu sama menatap temen cewek yang lain itu beda"
"iya iya bener kelihatan banget"
"sebenarnya perasaanmu gimana say?"
aku awalnya kaget mendengar berondongan pertanyaan ciwi-ciwi ini dan tak bisa menahan tertawa.
"yah salah tingkah dia"
"iya deh beneran kamu suka ya sama dia?"
"Heh gatau aku", akhirnya ku buka suara, sambil tersenyum, entah mengapa aku tak bisa menyembunyikan suatu hal yang membuncah gitu. Apa memang iya aku suka?
"gak, kelihatan banget Wid"
"iya-iya terserah", jawabku
"Tapi suka gak?", temanku masih tak menyerah untuk mendesakku menjawab dengan suatu kata yang bisa dikuantifikasi
"mungkin hehe", jawabku akhirnya
"Naaaahh ya kaannn", sorak temanku ramai. Gimana gak ramai, 6 orang dalam kamar dan semuanya wanita haha
"Udah pernah jalan kemana aja?", tanya mereka lagi
"Belum, hanya aku jadi mau makan nasi padang", jawabku
"Eciye, mentang-mentang doi dari Padang jadi suka nasi padang ini?",
"yee habis enaaakk",kataku
"Jangan diciyein lah, nanti kalau orangnya menjauh bagaimana?", kataku
"hmm gak kok gak bakal deh", kata mereka lagi
Sebenarnya dari dalam hati, aku takut terlibat dalam perasaan yang terlalu dalam, Rasanya mungkin berbunga-bunga di awal, namun pahit berkepanjangan di tengah hingga entah sampai kapan. Bahkan awalnya aku tak mau terlalu memperhatikan perasaanku, tapi jika banyak yang membicarakan hal itu, entah mengapa semuanya makin bergejolak. Benarkah dia juga begitu?
