Hari ini tepat 1 ramadhan
Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk merasakan
dan bertemu bulan penuh rahmat ini tahun ini, walau dengan suasana hati yang
berbeda.
Aku masih ingat ketika tahun lalu bulan puasaku aku habiskan
dengan berjuang menembus perguruan tinggi favoritku mati-matian, aku tak bisa
memikirkan apa-apa lagi, aku hanya berfikir bagaimana caranya aku membanggakan
orang tua, menghapus raut sedih dari wajah mereka yang perlahan menua dengan
menunjukkan pada mereka bahwa aku bisa diterima. Tetapi semua itu serasa
syahdu, begitu juga hari raya idul fitri yang amat meriah dikarenakan umat
islam di Indonesia berlebaran di hari yang sama, biasanya terjadi perbedaan
dalam menjatuhkan kapan hari raya.
Aku juga merasa syahdu ketika aku benar-benar berada di
titik maksimal kesyahduan ramadhan dan idul fitri tahun lalu tatkala aku merasa
bahwa setelah ini aku akan menjadi anak rantau yang jauh dari orang tua, maka
aku memanfaatkan semua momen dengan intim bersama mereka, bisa melihat nenekku
dari ayah di Pamekasan, Madura yang pada tahun ini telah berpulang ke
Rahmatullah.. setidaknya aku tidak melewatkan itu semua setelah setahun
terakhir ini aku harus meninggalkan keluarga dan segala fasilitasnya utk
belajar di sebuah universitas swasta yang cukup terkemuka di kota apel, Malang.
Indah ketika mengingat itu semua, damai mengingat itu semua.
Tidak seperti yang aku rasakan sekarang, gamang dan sedih karena suatu hal..
***
“Wid, ayolah wid angkat telfonku, plis jangan molor
gini!!!!!,” aku tergeragap ketika membaca sms dari salah satu teman. Kulihat
jam dinding di kamarku yang menunjukkan pukul 06.30 pagi. Celaka 13!!! Aku terlambat
mengantar temanku ke bandara! Aku sudah berjanji padanya untuk mengantarkan dia
pukul 04.30 pagi, tapi aku justru kesiangan. Langsung ku telfon dia dengan panik.
Lama tak kunjung ada jawaban akhirnya diangkat.
“kak, kamu dimana sekarang,?” tanyaku panik
“kak, kamu dimana sekarang,?” tanyaku panik
“udah di bandara,” katanya dingin
“maaf kak,” tak terasa bulir-bulir air mataku luruh
“udahlah, ga ngerubah juga kan!,” katanya singkat
Klik. Telfon ditutup
Aku tak kuasa atas ini semua. Aku sedih, aku merasa bodoh
atas kelalaianku ini. tangisku makin menjadi-jadi sampai salah satu mbak-mbak
yang kamarnya bersebelahan denganku mendatangiku dan menanyaiku. Aku tak kuasa
menjawabnya. Pandanganku tertumbuk sejenak pada bungkusan putih di atas meja
yang telah kusiapkan sejak kemarin malam. Ya, itu adalah makanan yang sengaja
aku buat untuk dia bawa selama perjalanan. Aku lembur semalaman demi itu dan
justru malah kesiangan. Sakit rasanya. Sejak saat itu sms ku tak pernah
dibalas.
***
Sebenarnya tak hanya insiden itu saja yang membuatku
bersedih setengah mati, aku juga melakukan hal bodoh lain sebelumnya, yang
membuat kita bertengkar. Ya yaa yaa, itu semua salahku, aku memang salah. Lengkap
sudah kesalahanku padanya.
Aku bergegas pulang kampung pada hari itu juga. Setelah berkemas
dengan singkat, aku pulang. Ku pandangi kamarku dengan gamang, entah kenapa
berat rasanya meninggalkan kamar kos ini, padahal hanya ku tinggal selama 3
bulan selama liburan. Disinilah semua kenangan terpatri, mulai dari lembur
belajar, ngerjakan tugas, sampai dengan tersenyum2 sndri sembari membaca sms
dari DIA yang seringkali lucu dan indaah.. ya Allah, bahkan aku tak tahu
bagaimana kini hubunganku dengan dia. Mungkinkah dia sangat membenci karena
semua kesalahanku yang menyakiti perasaan? Aku tak tahu, yang jelas aku hanya
ingin menangis saja. Akhirnya ku kunci pintu kamarku dan turun ke bawah
melewati tangga dengan perlahan. Ku starter motorku, dan pergi berharap aku
selamat sampai tujuan selama 3 jam perjalanan ke depan.
***
“Rio, sepertinya kelompok tugas antropologi kita kurang 1
orang ya,” kataku pada Satrio, lelaki berkacamata, teman yang baru ku kenal
selama 2 minggu di kelas ini.
“tadi ada 1 anak yang ingin gabung, tapi aku lupa namanya,”
kata Rio
“yang mana anaknya?,”tanyaku
“nanti saja ya kalau sudah di perpus aku beritahu deh,”
“oke,”
Di Perpustakaan
kampus..
“ini Wid, yang mau gabung jadi kelompok kita”, kata Rio
sambil menunjuk anak di sebelahnya
“2 orang?,” tanyaku balik
“kalau masih ada kuota, kami berdua boleh gabung yaa?” kata
salah satu dari mereka.
“wah padahal kuota cuma sisa 1,” kataku menyesal
“eh begini, siapa yang tadi ingin gabung duluan?,” tanyaku
lagi
“tadi Indra yang ingin gabung lebih dahulu”, kata Rio sambil menunjuk salah satu anak di
sebelahnya. Anak itu cukup tinggi, wajahnya bersih, rambutnya jegrik-jegrik ke atas. Aku malah melihat
anak ini mirip dengan salah satu vokalis band yang liriknya kira-kira begini,”buka
hatimuu, bukalah sedikit untukkuu”. Itulah kira-kira.
“iya tadi aku yang minta gabung duluan, tapi kawan awak ni mau gabung juo,” kata Indra
“hmm begini ya, aku bakal menghargai yang minta gabung
duluan, nanti kamu akan kucarikan kelompok yang lain yaa”, kataku seraya
berbicara pada anak di samping Indra yang ku ketahui namanya adalah Awan.
Akhirnya, kami mengerjakan tugas ini sehari penuh sampai
maghrib di gazebo tempat mahasiswa menikmati wifi atau sekedar santai. Kami juga sesekali bertanya-tanya dan
bercanda untuk sekedar mengakrabkan diri. Yaa masa awal kuliah pasti butuh
adaptasi yah. Sedari tadi, anak yang bernama Indra ini berusaha bercanda, mulai
dari menertawakan blogku yang berwarna-warni cerah, yang kebetulan aku numpang
akses blog di laptopnya, sampai menyuruhku ikut audisi generasi 3 JKT48 sambil
tertawa-tawa juga. Ya ampun apaan sih anak ini.
“Widya, kamu jualan pulsa ya?” tanya Indra kemudian
“iya” jawabku singkat
“aku mau beli donk”
“oke, berapa nomormu?” kataku sambil mengeluarkan handphone khusus transaksi pulsa
“ciyee, tanya-tanya nomorkuu” katanya dengan ekspresi
merem-merem malu gak jelas kayak orang kebelet pipis
“jadi ga?” kataku sambil memasang wajah –hello apa sih-
“iya,iya” katanya sambil mendiktekan nomor dan nominalnya. Tak
lupa dia mengeluarkan uangnya
Akhirnya tugas kami selesai dan memutuskan untuk pulang. Awalnya
kami berjalan beriringan tetapi masing-masing dari kami akhirnya berpisah. Aku berjalan
di belakang sendirian. Tak jauh di depanku ada Indra dan salah satu teman cewek
yang 1 kelompok denganku. Mereka berjalan beriringan di depanku. Teman ku cewek
yang 1 itu aktif sekali ketika berbicara. Entah mengapa aku tak seberapa ngeh ketika mengenal Indra. Dia cukup
tampan, tapi aku tak seberapa tertarik. Bukan tertarik dalam arti suka lawan
jenis ya, tapi tertarik dalam berkomunikasi dengannya. Tapi dua-duanya juga
bisa sih. Entah kenapa aku biasa saja. Tapi semua ini juga beralasan, aku punya
prinsip. Prinsip alay sih. Aku punya quote
bahwa Orang ganteng itu banyak yang suka, dia juga memanfaatkan kegantengan
mereka untuk mereka sendiri. Pokoknya sakit kalau sama orang ganteng. Mending sama
orang biasa aja, kita aja yang suka, ga ada yang suka lagi sama dia selain
kita. That’s why I dislike with handsome
person, haha..
***to be continued
