Dulu aku pernah menulis sebuah angan. Ingin rasanya bertemu
dengan Kak Iman Usman. Aku juga ingat ketika namaku terdaftar di daftar
undangan peluncuran buku masih belajar Kak Iman. Sayangnya aku tak bisa hadir
karena jarak Jombang-Jakarta yang mahalnya sekian-sekian.
Hingga ketika aku telah menjejakkan kaki di Kota Depok untuk
bekerja. Pikiranku melayang membayangkan aku dapat bertemu dengan Kak Iman. Sempat
merasa sok membayangkan suatu hari nanti aku dapat bertemu kak Iman Usman
dengan first impression yang membanggakan. Satu stage dengan Kak Iman Usman
misalnya. Tentunya jika satu stage, kita setara karena sama-sama penting.
Namun, aku hanya tertawa mengingat khayalan gilaku. Bagaimana bisa seorang
Arina yang masih anak bawang, mampu mengejar posisi Kak Iman saat ini. Bukan
berarti aku pesimistis, namun aku sadar jika semua butuh proses yang tidak
sebentar.
Sampai suatu hari, aku melihat Instagram story salah satu
influencer di bidang financial yang mengadakan meetup. Tak lama akhirnya aku
memutuskan untuk ikut dan bertemu dengan dia. Orangnya begitu ramah dan humble
sekali, senang sekali ketika bertemu dengannya. Namun, sempat terbersit
pikiran, “Kapan aku ketemu kak Iman Usman?”
Sampai dua minggu berselang, akhirnya aku dapat melihat sosok
itu, sosok yang aku kagumi 2 tahunan terakhir. Aku mendengar gema suaranya yang
selama ini hanya aku dengar dari Instagram atau youtube. Aku hanya terpaku di
depan lift ketika melihat sosok berkemeja putih sembari membawa jas abu-abu.
Rasanya seperti mimpi ketika aku dapat melihat sosoknya hanya beberapa jengkal
saja.
Selasa, 3 Desember 2019
16:21 wib
Rasanya punggungku sakit sekali. Beberapa hari ini juga aku
tak bisa tidur nyenyak. Bukan insomnia, namun setiap tidur aku selalu bermimpi
tentang kerjaan di kantor, bangun tidur rasanya pusing sekali. Aku rindu momen
ketika aku dapat deep sleep. Aku rebahan sebentar di pojok ruangan karena
merasa otak dan fisikku lelah sekali. Sampai pada akhirnya, handphoneku
berbunyi tanda notifikasi Instagram.
Ku lihat ada DM dari Skill Academy by Ruangguru. Ku lihat
isinya mereka meminta nomor kontakku. Tak lama, aku ditelfon oleh sosok yang
memperkenalkan diri sebagai Mbak Naya. Mbak Naya menanyakan kepadaku tentang
pengalamanku memakai produk dari mereka. Ya, aku jelaskan saja sampai akhirnya
mbak Naya menawarkanku untuk ikut syuting Skill Academy. Aku terhenyak kaget,
kok bisa? Sampai mbak Naya berkata,”Pasti ada Kak Iman Usman juga lho kak”
Rasanya linglung, cemas namun excited. Bagaimana bisa
tawaran ini datang sepersekejap saja? Akhirnya aku bertekad menyelesaikan
tumpukan pekerjaanku agar hari H nanti aku bisa izin dengan tenang.
Kamis, 5 Desember 2019
15.30 wib
15.30 wib
Sepanjang perjalanan kereta Stasiun Depok Baru – Stasiun
Gondangdia, aku tak bisa membayangkan bagaimana aku nanti. Hingga akhirnya aku
sampai di tempatnya dan naik ke lantai 3, tempat syuting skill academy. Di sana
aku melihat untuk pertama kali sosok yang memenuhi history instagramku. Ingin
rasanya ku angkat handphone untuk mengabadikan sosoknya diam-diam. Namun aku
ragu, tak sopan rasanya jika aku melakukannya diam-diam namun bagaimana pula
aku mendekatinya? Bagaimana pula aku mendekat untuk berfoto jika aku saja tak
mampu berucap apapun.
IT’S SHOW TIME!
Syuting sesiku dimulai. Aku syuting untuk segmen terakhir.
Dalam satu frame, terdapat pembawa acara, aku dan 2 user lainnya dan Kak Iman
Usman.
Iya, kak Iman Usman!
Kami ber5 satu frame. Rasanya aku ingin gulung-gulung saja melampiaskan
perasaan aneh yang membuncah sejak mbak Naya memberiku tawaran untuk syuting.
Kak Iman sempat melontarkan beberapa pertanyaan padaku sebelum sesi take
dimulai. Aku masih ingat sebuah tatapan antusias ala Kak Iman kepada setiap
lawan bicaranya. Aku masih ingat tatapannya saat mengobrol sebentar denganku. Ingin
rasanya aku melihat kak Iman terus namun di sisi lain aku tak dapat
menyembunyikan rasa malu dan insecureku.
YA ALLAH, INGIN KU MENANGIS
Bagaimana bisa, harapan receh seorang Arina, dikabulkan
dengan cepat. Kamu pernah berharap satu stage dengan Kak Iman kan, Arina? Iya
kamu sekarang satu inframe dengan Kak Iman.
Iya kamu masih anak bawang, tapi nyatanya kamu satu inframe?
Bukankah Allah mengabulkan harapan setengah hatimu dengan scenario yang
sempurna, tanpa perlu tunggu waktu lama?
Bayangin aja kalau nunggu kamu sukses dahulu, ga ketemu2
dong sama kak Iman Usman wkwk
Kamis, 5 Desember 2019
22.47 wib. Stasiun Gondangdia
Aku masuk ke Stasiun Gondangdia dengan setengah berlari. Aku
merasa langkahku begitu ringan ketika menaiki tangga…..eskalator. Yaiyalah
ringan, wong naik eskalator wkwkw
Sembari menunggu kereta terakhir menuju Depok, aku masih
membayangkan momen-momen indah tadi. Saat aku berfoto dengan Kak Iman sembari
menawarkan diri untuk membantunya di Beasiswa Iman Usman batch 2. Aku terus
memandangi foto kami berdua di handphone sembari tetap awas melihat jam kereta yang
akan berangkat.
Jumat, 6 Desember 2019
06.00 wib. Kamar kos
Aku sudah bangun sedari subuh tadi, dan sekarang masih
gegoleran santai sembari memandang fotoku dengan Kak Iman Usman. Tidak ada yang
berubah, hanya saja Kak Iman tersenyum begitu manis, padahal dia sudah syuting
sejak siang dan pasti lelah sekali. Namun masih mau meladeni sesi foto
bersamaku, Arina si anak bawang
Sebenarnya aku masih amat lelah sekali karena sampai kosan
cukup larut, namun aku harus bangun karena ada meeting dengan bosku pukul 8
pagi. Hanya saja pagi ini aku merasa semangat sekali, entah semangat dari mana.
Yang jelas ketika aku mengeluh lelah, mantra ”Malu sama kak Iman, udah jangan
ngeluh” ku bisikkan, dan voilaaa aku semangat lagi
Terimakasih Kak Iman, sosok kakak yang senantiasa
menginspirasi. Semoga kita bertemu lagi di waktu dan kesempatan yang tepat.
Semoga Kak Iman baik-baik selalu. Anyway, aku sangat menunggu untuk bisa membantumu
di Beasiswa Iman Usman.
Xoxo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar