my profile

Selasa, 10 Desember 2019

Secuil Cerita tentang Arina dan Idolanya


Dulu aku pernah menulis sebuah angan. Ingin rasanya bertemu dengan Kak Iman Usman. Aku juga ingat ketika namaku terdaftar di daftar undangan peluncuran buku masih belajar Kak Iman. Sayangnya aku tak bisa hadir karena jarak Jombang-Jakarta yang mahalnya sekian-sekian.

Hingga ketika aku telah menjejakkan kaki di Kota Depok untuk bekerja. Pikiranku melayang membayangkan aku dapat bertemu dengan Kak Iman. Sempat merasa sok membayangkan suatu hari nanti aku dapat bertemu kak Iman Usman dengan first impression yang membanggakan. Satu stage dengan Kak Iman Usman misalnya. Tentunya jika satu stage, kita setara karena sama-sama penting. Namun, aku hanya tertawa mengingat khayalan gilaku. Bagaimana bisa seorang Arina yang masih anak bawang, mampu mengejar posisi Kak Iman saat ini. Bukan berarti aku pesimistis, namun aku sadar jika semua butuh proses yang tidak sebentar.

Sampai suatu hari, aku melihat Instagram story salah satu influencer di bidang financial yang mengadakan meetup. Tak lama akhirnya aku memutuskan untuk ikut dan bertemu dengan dia. Orangnya begitu ramah dan humble sekali, senang sekali ketika bertemu dengannya. Namun, sempat terbersit pikiran, “Kapan aku ketemu kak Iman Usman?”

Sampai dua minggu berselang, akhirnya aku dapat melihat sosok itu, sosok yang aku kagumi 2 tahunan terakhir. Aku mendengar gema suaranya yang selama ini hanya aku dengar dari Instagram atau youtube. Aku hanya terpaku di depan lift ketika melihat sosok berkemeja putih sembari membawa jas abu-abu. Rasanya seperti mimpi ketika aku dapat melihat sosoknya hanya beberapa jengkal saja.

Selasa, 3 Desember 2019
16:21 wib
Rasanya punggungku sakit sekali. Beberapa hari ini juga aku tak bisa tidur nyenyak. Bukan insomnia, namun setiap tidur aku selalu bermimpi tentang kerjaan di kantor, bangun tidur rasanya pusing sekali. Aku rindu momen ketika aku dapat deep sleep. Aku rebahan sebentar di pojok ruangan karena merasa otak dan fisikku lelah sekali. Sampai pada akhirnya, handphoneku berbunyi tanda notifikasi Instagram.

Ku lihat ada DM dari Skill Academy by Ruangguru. Ku lihat isinya mereka meminta nomor kontakku. Tak lama, aku ditelfon oleh sosok yang memperkenalkan diri sebagai Mbak Naya. Mbak Naya menanyakan kepadaku tentang pengalamanku memakai produk dari mereka. Ya, aku jelaskan saja sampai akhirnya mbak Naya menawarkanku untuk ikut syuting Skill Academy. Aku terhenyak kaget, kok bisa? Sampai mbak Naya berkata,”Pasti ada Kak Iman Usman juga lho kak”
Rasanya linglung, cemas namun excited. Bagaimana bisa tawaran ini datang sepersekejap saja? Akhirnya aku bertekad menyelesaikan tumpukan pekerjaanku agar hari H nanti aku bisa izin dengan tenang.

Kamis, 5 Desember 2019
15.30 wib
Sepanjang perjalanan kereta Stasiun Depok Baru – Stasiun Gondangdia, aku tak bisa membayangkan bagaimana aku nanti. Hingga akhirnya aku sampai di tempatnya dan naik ke lantai 3, tempat syuting skill academy. Di sana aku melihat untuk pertama kali sosok yang memenuhi history instagramku. Ingin rasanya ku angkat handphone untuk mengabadikan sosoknya diam-diam. Namun aku ragu, tak sopan rasanya jika aku melakukannya diam-diam namun bagaimana pula aku mendekatinya? Bagaimana pula aku mendekat untuk berfoto jika aku saja tak mampu berucap apapun.

IT’S SHOW TIME!

Syuting sesiku dimulai. Aku syuting untuk segmen terakhir. Dalam satu frame, terdapat pembawa acara, aku dan 2 user lainnya dan Kak Iman Usman.

Iya, kak Iman Usman!

Kami ber5 satu frame. Rasanya aku ingin gulung-gulung saja melampiaskan perasaan aneh yang membuncah sejak mbak Naya memberiku tawaran untuk syuting. Kak Iman sempat melontarkan beberapa pertanyaan padaku sebelum sesi take dimulai. Aku masih ingat sebuah tatapan antusias ala Kak Iman kepada setiap lawan bicaranya. Aku masih ingat tatapannya saat mengobrol sebentar denganku. Ingin rasanya aku melihat kak Iman terus namun di sisi lain aku tak dapat menyembunyikan rasa malu dan insecureku.

YA ALLAH, INGIN KU MENANGIS

Bagaimana bisa, harapan receh seorang Arina, dikabulkan dengan cepat. Kamu pernah berharap satu stage dengan Kak Iman kan, Arina? Iya kamu sekarang satu inframe dengan Kak Iman.
Iya kamu masih anak bawang, tapi nyatanya kamu satu inframe? Bukankah Allah mengabulkan harapan setengah hatimu dengan scenario yang sempurna, tanpa perlu tunggu waktu lama?

Bayangin aja kalau nunggu kamu sukses dahulu, ga ketemu2 dong sama kak Iman Usman wkwk

Kamis, 5 Desember 2019
22.47 wib. Stasiun Gondangdia
Aku masuk ke Stasiun Gondangdia dengan setengah berlari. Aku merasa langkahku begitu ringan ketika menaiki tangga…..eskalator. Yaiyalah ringan, wong naik eskalator wkwkw
Sembari menunggu kereta terakhir menuju Depok, aku masih membayangkan momen-momen indah tadi. Saat aku berfoto dengan Kak Iman sembari menawarkan diri untuk membantunya di Beasiswa Iman Usman batch 2. Aku terus memandangi foto kami berdua di handphone sembari tetap awas melihat jam kereta yang akan berangkat.

Jumat, 6 Desember 2019
06.00 wib. Kamar kos
Aku sudah bangun sedari subuh tadi, dan sekarang masih gegoleran santai sembari memandang fotoku dengan Kak Iman Usman. Tidak ada yang berubah, hanya saja Kak Iman tersenyum begitu manis, padahal dia sudah syuting sejak siang dan pasti lelah sekali. Namun masih mau meladeni sesi foto bersamaku, Arina si anak bawang

Sebenarnya aku masih amat lelah sekali karena sampai kosan cukup larut, namun aku harus bangun karena ada meeting dengan bosku pukul 8 pagi. Hanya saja pagi ini aku merasa semangat sekali, entah semangat dari mana. Yang jelas ketika aku mengeluh lelah, mantra ”Malu sama kak Iman, udah jangan ngeluh” ku bisikkan, dan voilaaa aku semangat lagi

Terimakasih Kak Iman, sosok kakak yang senantiasa menginspirasi. Semoga kita bertemu lagi di waktu dan kesempatan yang tepat. Semoga Kak Iman baik-baik selalu. Anyway, aku sangat menunggu untuk bisa membantumu di Beasiswa Iman Usman.
Xoxo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar