my profile

Rabu, 28 Oktober 2020

"Gue Gak Percaya kalo Elu Introvert"

 "gue gak percaya kalo elu introvert", ungkap seorang teman

Ya sebenarnya itu adalah kalimat yang sering ku dengar. Tak ada yang percaya jika seorang Arinak adalah introvert, ya bahkan aku pun juga tak percaya pada akhirnya, sampai akhirnya aku membaca sebuah keterangan tentang apa sebenarnya introvert itu, dan akhirnya aku mengakui jika aku memang lebih condong introvert, hmm meski sebenarnya bisa dibilang hampir seimbang, hampir ambivert.

Aku ingat, sedari kecil, aku mudah lelah jika berkumpul dengan orang banyak. Bukan berarti aku tak suka bertemu orang, tapi lama-lama energiku terkuras dan butuh menyendiri untuk mengisi energi kembali. Aku juga cenderung menyembunyikan emosiku yang sebenarnya dari khalayak ramai. 

Karena aku tinggal dengan mbah uti (nenek) di kotaku sedari kecil, setiap lebaran banyak keluargaku pulang kampung ke rumah kami untuk mengunjungi mbah uti. Aku senang saat saudaraku berkunjung, namun ada momen aku merasa lelah dengan keramaian. Aku sering sekali ketika masih bocah, menangis di maghrib terakhir bulan ramadhan, menuju pergantian idul fitri, entah mengapa ingin menangis saja. Meanwhile, di luar kamarku, banyak saudaraku yang berhahahihi bercanda ria dengan ramainya. Aku juga tak tahu mengapa aku menangis sendiri padahal di luar ramai. 

Dididik untuk Ramah ke Semua Orang

Ayah mamaku termasuk tipikal orang tua yang agak memusingkan masalah ini hahaha. Ayah mama pasti akan memarahi habis-habisan di rumah ketika aku ketahuan diam saja, memasang muka masam atau tak menyapa orang-orang yang harus ku sapa ketika di momen berkumpul dengan semua orang. Aku juga dimarahi ketika terlihat menyendiri di kamar, padahal aku hanya lelah melihat banyak orang berkumpul wkwk. Aku tak bermaksud menyalahkan orang tuaku sih, karena ini juga ada manfaatnya juga sih, setidaknya dapat bersosialisasi dengan baik di masa depan. 

Kurang adanya Privacy Space 

Sebagai anak yang tinggal dengan orang tua dari bayi hingga sekolah menengah atas, ya tentunya aku tinggal di rumah sendiri. Hanya saja, ketika di rumah, ayah menerapkan peraturan jika kamar tidur tidak boleh ditutup pintunya, harus senantiasa terbuka. Aku tak paham sebenarnya mengapa harus begitu, hanya saja aku pernah mendengar ayah berkata demikian. 

Aku juga ditegur ketika terlalu lama beraktivitas di kamar haha. Pada saat kuliah di Kota Malang dan ngekos sendirian, aku benar-benar merasakan sendiri bagaimana nikmatnya sebuah privacy. Terkadang, kita perlu sendirian melakukan apapun yang kita suka setelah lelah beraktivitas. Atau mungkin bebas jika tak melakukan apapun sama sekali saat sedang santai / istirahat?

Suka Pergi Sendirian

Aku sebenarnya baik-baik saja jika harus bepergian sendiri atau dengan orang lain, tak ada masalah. Hanya saja, aku cenderung tak enak hati jika ternyata teman bermainku kurang suka dengan tujuan yang sudah aku atur, padahal jika keluar bersama ya harus senang bersama kan ya. Sehingga aku lebih sering pergi kemana pun sendiri. 

Saat masih kuliah, aku sering berkeliling tanpa tujuan hanya untuk melepas penat. Menyenandungkan beberapa lagu yang ku suka sambil merasakan pipiku diterpa angin~ elahh haha

Saat bekerja di Surabaya, tak banyak waktu yang ku habiskan untuk berkeliling karena aku masih takut berkeliling Surabaya. Ketika bekerja di Depok, Jawa Barat aku cenderung main sendirian ke Jakarta. Bukan main yang gimana-gimana sih, hanya makan di tempat favorit, ke perpustakaan nasional, Erasmus Huis, ke mall, toko buku dll

Aku juga pernah mencoba rute KRL dari Bogor - Jatinegara - Bogor hanya untuk iseng saja. Duduk diam berkontemplasi wkwkwk sembari melihat ke luar jendela. Begitu juga halnya denganku yang berkeliling bolak balik di MRT atau Transjakarta. Aneh memang, tapi ya gimana dong aku suka. 

Tentang Introvert seorang Arinak

Buatku, Introvert bukan tentang kita yang selalu menyendiri, selalu pendiam, pemalu, tidak berani speak up dan hal-hal negatif yang disematkan bagi penyandang gelar introvert ini. 

Buatku, kita semua bisa saja ramah dan ceria di luar, namun berkeluh kesah memikirkan banyak hal saat malam hari, atau melepas lelah karena seharian bertemu dengan manusia. Itu semua normal. Sebagai introvert, boleh saja bersuara atau menunjukkan kemampuan diri kita yang sebenarnya, tanpa senantiasa making excuse di balik embel-embel "aku kan introvert. Tidak ada yang salah menjadi introvert, karena itulah diri kita sendiri. Namun, yang salah adalah ketika kita justru menjadikan hal alamiah dari diri kita menjadi penghalang kita untuk berkembang menjadi lebih baik. 

tidak ingin bersuara karena merasa dirinya introvert, padahal itu bukan introvert, itu hanya rasa malu. 

cuek dengan sekitar karena merasa dirinya introvert, padahal itu bukan introvert, itu hanya rasa tidak peduli. 

you can be what you wanna be, everything

Lalu apa maksud tulisan ini? gatau, hanya iseng saja sebenarnya haha. 

Lebih ingin mencurahkan apa yang di pikiran saja setiap mendengar statement tersebut. 


Rabu, 14 Oktober 2020

K-Drama, Pernikahan dan Dia

Entah mengapa, di umurku yang sudah seperempat abad, aku suka sekali menonton korean drama tentang pasangan yang sudah berkeluarga. Lebih tepatnya, aku menyukai drama yang berjudul Go Back Couple (2016, kalau tidak salah) dan 18 Again (Sept 2020, sedang on going ketika postingan ini ditulis)

Kedua cerita dan plot drama itu hampir mirip, karena sutradaranya juga sama. Intinya, ada sepasang suami istri yang punya beberapa masalah selama pernikahannya, lalu salah satu dari mereka bahkan keduanya diberi kesempatan untuk kembali masa lalu di masa sebelum mereka menikah.

Dunia Pernikahan itu..

Buatku, dunia pernikahan memang tidak semudah itu. Dunia orang dewasa saja lebih problematik, ditambah dewasa kemudian menikah. Aku teringat pada saat masih bocah, aku mencuri dengar ayah dan mama yang bertengkar kecil atau bahkan bertengkar tanpa bertegur sapa, walaupun setelah itu mereka akur kembali. Sebagai seorang anak, tidak enak rasanya melihat hal seperti itu. Hingga akhirnya aku sendiri telah sampai pada umur 25 tahun, katanya umur ini sudah memasuki umur siap nikah secara fisik bagi perempuan, hmm namun belum tentu secara mental.

Di satu sisi, aku ingin menikah hanya karena teman-teman sekitar sudah menikah, namun ada titik di mana aku berpikir apakah aku sanggup dan sudah siap terjun ke dunia pernikahan. Alih-alih bicara soal sanggup atau siap, yang diajak menikah saja belum ada, HAHAHAHAH.

Tentang Kedua Korean Drama tadi..

Di Kdrama Go Back Couple, pasangan itu sama-sama kembali di masa lalu saat mereka pertama kali bertemu. Karena tahu diberi kesempatan untuk kembali, mereka memuaskan diri untuk mendekati incaran masing-masing di masa lalu dan bersikeras untuk menghindar satu sama lain. Alih-alih mereka berpisah, ternyata mereka justru banyak mendapat kenyataan-kenyataan baru yang membuka mata mereka soal hubungan pernikahan selama ini. Iya, saking seringnya salah paham dan tidak mau mendengar hati ke hati, mereka kehilangan esensi kasih dalam pernikahan mereka. Wallaaaa setelah sadar akhirnya mereka dapat kembali ke masa mereka sudah menikah.

Beda halnya dengan Kdrama 18 Again. Pasangan ini tidak kembali ke masa lalu, namun salah satu pasangan ini (pihak suami) justru kembali muda di masa saat ini dan bahkan satu sekolah dengan anak-anak mereka. Istri tetap menjadi pada umurnya dan tidak mengetahui jika suaminya telah berubah karena mereka sudah pisah rumah beberapa waktu (aku nonton masih ep 7 jadi istri belum tau, entah jika di ep selanjutnya ternyata sudah terungkap)

Namun, plot cerita 18 Again ini hampir sama dengan Go Back Couple, ternyata banyak hal yang tidak kita ketahui dari pasangan, bagaimana tentang mengucapkan bahasa cinta satu sama lain, dll

Eh tapi aku belum tahu endingnya bagaimana ya.

Namun, aku menangis di beberapa episode karena merasakan tentang susahnya jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak seperti itu. Permasalahan orang dewasa dipadu dengan masalah pernikahan, beuh. 

Tentang Dia, yang selalu peduli..

Walaupun single bertahun-tahun, namun bukan berarti aku tidak memiliki tambatan hati *ciyeilah tambatan hati. Aku punya seseorang yang sudah ku kenal sejak akhir 2013. Total 7 tahun kami berteman dan mengenal satu sama lain. Entah mengapa, meski tidak terikat hubungan resmi pacaran atau pernikahan, aku merasa nyaman dengannya, mungkin karena dia sudah tahu banyak kekurangan, keburukan dan kelebihanku. Ya, aku mencintainya, namun sepertinya dia tidak haha. Tapi dia tetap jadi teman baikku. 

Aku pernah ada di titik begitu membenci dia, karena aku merasa kalau aku telah banyak berkorban sedangkan dia tidak. Namun, melihat Go Back Couple itu (aku baru nonton tahun 2018) seketika menyadarkanku kalau hubungan tidak melulu tentang diri kita sendiri. Setiap aku jengkel padanya, aku selalu berusaha mengingat kebaikan-kebaikannya dan pengorbanannya padaku. Aku berusaha bertanya bagaimana kabarnya (ya, aku tak pernah bertanya bagaimana kabarnya, karena ku kira kita selama 4 tahun bertemu setiap hari dan saling follow sosmed masing-masing, jadi ya saling tau kabar dong harusnya. ternyata aku salah), bagaimana harinya di tempat kerja hari itu, mendengarkan dan menvalidasi keluh kesahnya dan berterima kasih padanya setiap dia melakukan sesuatu untukku. 

Pada akhir 2019, aku sempat berusaha bertanya kepada dia tentang bagaimana hubungan ke depannya, namun ternyata tidak ada yang harus digimanakan karena kita memang berteman. I'm okay with that, justru aku lebih lega saat ini karena sudah jelas semuanya, meski kita harus saling membatasi dalam berkomunikasi. 

Jujur, aku sempat kehilangan sosok yang terbiasa mendengarkan keluh kesahku dan ku tanya-tanya terkait apapun.  Aku tak bisa menghubunginya karena sudah berjanji untuk saling membatasi diri. Hingga ada momen, hubungan pertemanan kita sedikit cair kembali, meski tidak sama seperti dulu lagi. Aku sadar jika cairnya hubungan pertemanan ini karena masing-masing dari kita sudah sama-sama dewasa. Iya, dia orang baik dan dewasa, ehmm yg terbaik yang pernah ku kenal hingga saat ini. 

Aku mulai sedikit bisa bercerita tentang apa yang menimpaku di tempat kerja, apa kesedihan yang ku rasakan, dll. Ia tetap seperti dahulu, tetap mendengarkanku, dan ituu sangat-sangat membuatku jauh lebih baik. Hingga ada masa di mana aku harus berhenti kerja di tempatku saat itu, dan aku mengirim pesan WA kepada dia bahwa aku harus berhenti kerja. Bukan pesan yang sedih, aku menganggap lay off, phk dll adalah hal wajar bagi pekerja, aku hanya menghubungi dia kali aja dia dapat memberi informasi lowongan kerja baru untukku.

Namun, detik itu juga, dia menelponku dan bertanya bagaimana perasaanku. Aku menerima telpon darinya di dlm kamar mandi kantor dan aku menangis terisak-isak di sana. Padahal tadi saat diumumkan aku tidak bisa lanjut, aku merasa biasa saja dan tidak menangis, sedih sewajarnya. Entah mengapa, Ia membuatku nyaman untuk bercerita hingga aku menangis, mengeluarkan segala kekesalan yang selalu ku tahan-tahan dalam diriku. 

Iya, dia ada untukku, selalu ada untukku di saat aku benar-benar membutuhkannya.

Dia pasti selalu menelpon tiap aku memulai sesi curhat dengan mengirimkan teks panjang-panjang. Mungkin lebih mudah baginya mencerna omonganku daripada pesan yang ku tulis, yang tentunya ku tulis secara emosional dan tidak beraturan. 

Pada drama 18 Again ep 7, ada scene yang menceritakan bahwa sang suami melihat jika istrinya yang bekerja sebagai reporter dan bekerja di luar ruangan, merasa kesusahan karena dibentak-bentak oleh kru. Pada malam hari, sang suami melihat istrinya terlihat stres dan lelah lalu sang suami menghibur istrinya dengan menyebut,"kerja bagus hari ini"

Seketika muka sang istri berubah dan berkata,"bolehkah kau mengulangi lagi perkataanmu tadi?"

Tangisku langsung pecah ketika melihat scene ini. Entah mengapa begitu related dengan diriku dan dia, meski kita bukan sepasang suami istri. 

Entah mengapa, bercerita padanya, cara dia peduli, mendengar suaranya, tertawa bersamanya cukup memberikan energi positif dan kekuatan sehingga aku selalu merasa lebih baik setelahnya. Sejengkel-jengkelnya aku, aku selalu luluh melihat apa yang dia lakukan padaku. Sejauh apapun aku berusaha mencari orang lain untuk menjadi pengganti, entah mengapa aku merasa jika cuma dia yang mengerti perasaan dan tingkah laku Arinak luar dalam. 

Terima kasih sudah selalu peduli, dan paling mengerti. Kadang aku berharap, apakah aku tidak bisa memohon kepada Allah, jika aku ingin suami seperti dia saja, cukup dia saja yang dengan rela ku terima sepaket kelebihan kekurangannya. Cuma, ya sudahlah. Saat ini, ada dia yang peduli saja sudah cukup untukku. 

Thank you, temanku yang baik