Sebagai anak pertama, sedikit banyak aku merasakan bagaimana keluarga kecilku membangun hidupnya dari bawah. Apakah kalian semua yang anak pertama juga seperti itu juga? Menjadi saksi bagaimana orang tua kalian berjuang begitu keras hingga saat ini dapat dinikmati hasilnya.
Arina Kecil yang Mudah Menerima
Sebagai anak kecil yang masih tidak mengerti apapun, aku mudah menerima apa pun yang aku dapat dan tidak aku dapat sedari kecil. Apapun yang ada ya itu yang aku bisa nikmati. Yang aku ingat, ayah bekerja sebagai guru Fisika di salah satu sekolah islam negeri di Surabaya yang pulang seminggu sekali. Jaman segitu, gaji guru masih kecil sekali, sehingga membuat ayah mama begitu berhemat agar bisa bertahan hidup.
Aku tak pernah merasakan adanya mainan khas anak kecil apapun. Sampai pernah suatu hari mama baru pulang dari pasar dan membawa 2 boneka anjing. Aku yang tak pernah menyentuh mainan, senang sekali rasanya dibelikan boneka oleh mama. Kata Mama,"mumpung murah, mama bisa beli".
Aku juga masih ingat ketika tiap kali aku tertarik suatu buku menggambar yang bagus atau krayon warna 12 buah bermerk, ayah selalu berkata,"Maaf, Nak. Ayah gak punya uang"
Sebenarnya aku tidak sedih, aku sangat memahami saat itu. Tanpa rengekan dan drama tangisan, aku diam saja. Hingga aku tidak pernah berani minta apapun lagi, karena aku paham jika Ayah tidak punya uang.
Pernah juga, Mamaku mendapat pesanan keripik banyak sekali dan Mama mengantarnya ke Kota Jombang. Kebetulan tempat pemesan berada di sekitar alun-alun Kota Jombang. Arina kecil yang tidak pernah keluar sama sekali, merasa senang sekali. Mama berkata bahwa aku antusias sekali dan semangat sekali hingga mama mengajakku duduk di pinggir alun-alun Kota Jombang. Padahal ya, Alun-Alun Kota Jombang tuh biasa aja sebenarnya, cuma kotak dan penuh rumput, tapi aku heboh sekali. Maklum, katrok wkwkwk
Ayah yang Begitu Peduli Pendidikan dan Keras dalam Mendidik
Walaupun begitu, ayah sangat peduli dengan pendidikanku. Ayah begitu berusaha melengkapi semua list buku paketku kala aku masuk Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) dulu. Sebagai seorang guru, wajar jika Ayah sangat mementingkan pendidikan anaknya.
Waktu kelas 1-2 MI, aku masih belajar dengan Mama karena Ayah masih kerja di Surabaya. Ayah pindah mengajar Fisika di Jombang ketika Adekku sudah lahir ke dunia ketika aku mau naik ke kelas 3. Lengkap sudah, saat itu aku belajar terus dengan Ayah. Mulai dari belajar ngaji sampai Matematika dan IPA.
Ayah begitu keras dalam mengajar mengaji. Setiap hari aku selalu menangis tanpa suara tiap mengaji haha. Iya, ayah memang sekeras itu jika mengajariku mengaji, tapi itu yang membuatku bisa mengaji. Namun, aku tak ingin menerapkan ini ke anakku kelak haha. Aku harus mencari cara agar dapat mengajari ngaji anakku kelak, dengan metode serius tapi santai. Semoga bisa ya HAHAHAHA.
Tidak cuma keras dalam mengajariku mengaji, namun juga keras dalam mengajariku Matematika. Entahlah mungkin karena aku aja yang lemot dalam mencerna pelajaran HAHAHAH. Intinya saat itu, 2 hal menegangkan dalam hidupku adalah ketika belajar Matematika dan Mengaji xD
Kesukaan Ayah, ya Kesukaanku pula
Hiburan favorit ayah adalah membaca koran dan mendengarkan musik Iwan Fals. Sedari kelas 3 SD, aku terbiasa membaca satu bundle Koran Jawa Pos yang ayah beli beberapa hari tertentu. Karena ayah tak mampu membelikanku buku bacaan, jadi aku membaca yang ada saja. Kalau tidak membaca buku pelajaran, ya baca koran milik ayah haha. Kala itu tahun 2003, koran seharga Rp 1.000,- apa yah, jadi masih cukup terjangkau buat Ayah.
Awalnya aku tidak mengerti isi Koran Jawa Pos, namun lama-lama aku mengerti meski aku kurang bisa menjelaskan ulang apa maksud beritanya. Mulai dari berita utama, kriminal, bola, sampai deteksi dan kolom cinta-cintaan yang cuma terbit saat hari minggu saja itu. Wkkwkwkw sepertinya aku dewasa sebelum waktunya, untung aku tidak aneh-aneh anaknya HAHAHA
Ayah juga selalu memutar album-album lawas Iwan Fals. Tanpa sadar, semua lagunya sudah hapal di luar kepala olehku dan aku ikut mendendangkan lagu tersebut. Bayangkan nak-kanak kelas 3-4 SD nyanyi lagu Iwan Fals yang isinya tentang kritik sosial. Ya gak ada istimewanya sebenernya sih.
Namun, lagu-lagu ini yang menjadi vibes masa kecilku, hingga begitu membekas sampai aku berumur 25 tahun saat ini.
Saat Susah Bersama Ayah
Ayah orangnya begitu sederhana, begitu juga Mama. Saat itu, motor ayah masih motor butut yang suka mogok. Aku kurang paham nama motornya, namun ayah selalu menyebut motornya dengan nama "Robot". Ayah selalu diejek orang sekitarnya terkait motornya yang selalu mogok tersebut. Namun aku paham mengapa ayah belum mau membeli motor baru, karena ayah saat itu sedang mencicil untuk beli tanah.
Yepp, sedari bayi hingga aku kelas 1 SMP, aku masih tinggal dengan Nenekku (Ibunya Mama). Ayah dan Mama membeli tanah milik saudara di belakang rumah nenekku. Kayaknya tanahnya lunas pas aku mau menginjak kelas 6 SD.
Selama dengan si Robot, kami mengalami suka dan duka. Waktu itu Ayah mempunyai urusan ke Surabaya dan memintaku untuk menemani Ayah. Aku yang jarang keluar rumah dan keluar kota merasa senang menerima tawaran itu. Saat berangkat ke Surabaya, tak ada hambatan yang berarti sih. Sepanjang jalan, aku mendendangkan lagu-lagu Iwan Fals yang ku hapal mulai dari Bongkar, Puing, Air Mata Api, Nyanyian Jiwa, Perempuan Malam hingga Ibu. Hingga sampai di salah satu perempatan lampu merah di Surabaya, saat itu hujan baru saja reda. Aku melihat ada anak lelaki seumuranku basah kuyup. Di tangannya mendekap setumpuk koran yang sudah dilapisi plastik. Ia berdiri di pinggir perempatan sembari menggigil. Aku yang melihat hal itu langsung teringat lagu Iwan Fals yang berjudul Sore Tugu Pancoran.
Gambaran lagunya persis seperti itu. Mataku meneteskan airmata, tak sanggup melihatnya. Aku tak membayangkan bagaimana jika itu aku. Ayah tak tahu jika aku menangis, karena aku pandai menyembunyikan tangis dan kesedihanku eaaaa eaaaaa eaaaaaa~~~~~~
Aku sempat menginap sehari di rumah saudaraku di Surabaya sampai akhirnya urusan Ayah selesai dan kami harus pulang ke Jombang. Lagi-lagi, Surabaya menumpahkan air hujannya kala itu, dan drama dimulai.
Sebenarnya, sejak Wonokromo, motor ayah sudah menunjukkan tanda-tanda tidak jelas. Ketika mau masuk area Mojokerto, mulai lah mogok motor ayah, padahal itu hujan lebat. Ayah mendorong motornya dan aku mengikuti dari belakang. Sebenarnya sedari tadi kami sudah melewati banyak bengkel namun banyak yang tutup. Ada satu bengkel yang sedikit terbuka, namun ditolak oleh pemilik bengkel. Katanya, itu motor udah terlalu tua hahahah. Jadi maksudnya suruh ganti gitu? LOL KOCAK SIH sebenarnya walau saat itu aku sedih sekali dan tidak bisa tertawa sedih sekali :'(
Akhirnya ayah kembali menuntun motornya dan berusaha menstarter si Robot yang hidup segan mati tak mau itu. Dari belakang, aku terus berjalan, berharap Allah SWT memberi pertolongan dan keajaiban kepada kami. "Ya Allah, tolong lancarkanlah perjalanan kami sampai Jombang saja, kasihan ayah", tuturku lirih. Ayah berkali-kali juga menengok padaku dan berkata,"capek gak Nak? maaf ya Nak". Jujur, aku tidak merasa capek atau kesal, aku hanya sedih melihat ayah yang selalu susah dengan si Robot ini :'(
Setengah jam kami berjalan, mungkin Ayah sudah lelah jadi Ayah tidak awas melihat kanan kiri. Aku melihat ada bengkel besar buka di seberang jalan dan aku berteriak pada ayah,"YAH ITU ADA BENGKEEELLLLL"
Akhirnya motor ayah diperbaiki. Bajuku yang awalnya basah kuyup, sudah kering dengan sendirinya HAHA. Setelah motor ayah kelar diperbaiki, kami melanjutkan perjalanan pulang. Aku berdoa kembali semoga tidak mogok lagi motornya sampai rumah. Saat pulang, hujan deras kembali mengguyur. Aku ketar-ketir takut motor ayah mogok lagi karena hujan. Demi menghilangkan keresahan akan mogok, aku mendendangkan lagu Iwan Fals yang berjudul Pesawat Tempurku dong HAHAHAHA.
"Penguasa, penguasaaaaa berilah hamba uangggg
beri hamba uang!"
Beri hamba uang supaya bisa beli motor baru wkwk
Namun sekejap aku mengganti playlist laguku dengan lagu Iwan Fals ft Franky Sahilatua yang judulnya Terminal.
Bocah kurus tak berbaju
tajam matamu liar mencari bangsa
ramai para pedagang
datang tawarkan barang
ratap pengemis bak meriam dalam perang
iringi deru mesin-mesin
iringi tangis yang kemarin
aku datangi kamuuuu lewat laguuuuu
ku datangi kamuuuuuuu
Entah mengapa, lagu Iwan Fals sangat relate dengan kehidupan kami sebagai rakyat kecil saat itu.
14 Juli 2020
Aku menunggu go-carku di depan kantorku sambil main hago, hingga 10 menit kemudian go-carku sudah kelihatan dari ujung gerbang perumahan.
masuk, menyapa selamat malam ada driver dan duduk. Detik itu juga aku mendengar sebuah lagu yang tak asing, yang membangkitkan memori-memori masa kecil yang indah. Aku tahu banget lagu ini, ini lagu Iwan Fals yang berjudul Terminal.
Mendadak aku meneteskan airmata, teringat saat mogok motor dengan ayah 16 tahun lalu. Lagu yang ku dendangkan saat perjalanan pulang kala itu. Aku mendendangkan lagunya lirih sambil menerawang jauh saat masa kecil. Ah ayah, momen mogok berdua dan hujan-hujanan kala itu begitu istimewa rasanya. Terimakasih ayah, atas semua pengorbanannya.
Terimakasih ayah sudah mengajarkan banyak hal dalam hidup ini. Walau tak jarang kami sering berselisih paham, tapi sebenarnya aku sayaaaaaang bgt sama ayah! Ingin rasanya saat itu juga aku kembali ke masa kecilku itu lagi walau itu tak mungkin. Aku rindu sekali, ayah mama adek. Semoga aku bisa pulang ke rumah Jombang akhir Juli 2020 ini, aamiin.
Arina Kecil yang Mudah Menerima
Sebagai anak kecil yang masih tidak mengerti apapun, aku mudah menerima apa pun yang aku dapat dan tidak aku dapat sedari kecil. Apapun yang ada ya itu yang aku bisa nikmati. Yang aku ingat, ayah bekerja sebagai guru Fisika di salah satu sekolah islam negeri di Surabaya yang pulang seminggu sekali. Jaman segitu, gaji guru masih kecil sekali, sehingga membuat ayah mama begitu berhemat agar bisa bertahan hidup.
Aku tak pernah merasakan adanya mainan khas anak kecil apapun. Sampai pernah suatu hari mama baru pulang dari pasar dan membawa 2 boneka anjing. Aku yang tak pernah menyentuh mainan, senang sekali rasanya dibelikan boneka oleh mama. Kata Mama,"mumpung murah, mama bisa beli".
Aku juga masih ingat ketika tiap kali aku tertarik suatu buku menggambar yang bagus atau krayon warna 12 buah bermerk, ayah selalu berkata,"Maaf, Nak. Ayah gak punya uang"
Sebenarnya aku tidak sedih, aku sangat memahami saat itu. Tanpa rengekan dan drama tangisan, aku diam saja. Hingga aku tidak pernah berani minta apapun lagi, karena aku paham jika Ayah tidak punya uang.
Pernah juga, Mamaku mendapat pesanan keripik banyak sekali dan Mama mengantarnya ke Kota Jombang. Kebetulan tempat pemesan berada di sekitar alun-alun Kota Jombang. Arina kecil yang tidak pernah keluar sama sekali, merasa senang sekali. Mama berkata bahwa aku antusias sekali dan semangat sekali hingga mama mengajakku duduk di pinggir alun-alun Kota Jombang. Padahal ya, Alun-Alun Kota Jombang tuh biasa aja sebenarnya, cuma kotak dan penuh rumput, tapi aku heboh sekali. Maklum, katrok wkwkwk
Ayah yang Begitu Peduli Pendidikan dan Keras dalam Mendidik
Walaupun begitu, ayah sangat peduli dengan pendidikanku. Ayah begitu berusaha melengkapi semua list buku paketku kala aku masuk Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) dulu. Sebagai seorang guru, wajar jika Ayah sangat mementingkan pendidikan anaknya.
Waktu kelas 1-2 MI, aku masih belajar dengan Mama karena Ayah masih kerja di Surabaya. Ayah pindah mengajar Fisika di Jombang ketika Adekku sudah lahir ke dunia ketika aku mau naik ke kelas 3. Lengkap sudah, saat itu aku belajar terus dengan Ayah. Mulai dari belajar ngaji sampai Matematika dan IPA.
Ayah begitu keras dalam mengajar mengaji. Setiap hari aku selalu menangis tanpa suara tiap mengaji haha. Iya, ayah memang sekeras itu jika mengajariku mengaji, tapi itu yang membuatku bisa mengaji. Namun, aku tak ingin menerapkan ini ke anakku kelak haha. Aku harus mencari cara agar dapat mengajari ngaji anakku kelak, dengan metode serius tapi santai. Semoga bisa ya HAHAHAHA.
Tidak cuma keras dalam mengajariku mengaji, namun juga keras dalam mengajariku Matematika. Entahlah mungkin karena aku aja yang lemot dalam mencerna pelajaran HAHAHAH. Intinya saat itu, 2 hal menegangkan dalam hidupku adalah ketika belajar Matematika dan Mengaji xD
Kesukaan Ayah, ya Kesukaanku pula
Hiburan favorit ayah adalah membaca koran dan mendengarkan musik Iwan Fals. Sedari kelas 3 SD, aku terbiasa membaca satu bundle Koran Jawa Pos yang ayah beli beberapa hari tertentu. Karena ayah tak mampu membelikanku buku bacaan, jadi aku membaca yang ada saja. Kalau tidak membaca buku pelajaran, ya baca koran milik ayah haha. Kala itu tahun 2003, koran seharga Rp 1.000,- apa yah, jadi masih cukup terjangkau buat Ayah.
Awalnya aku tidak mengerti isi Koran Jawa Pos, namun lama-lama aku mengerti meski aku kurang bisa menjelaskan ulang apa maksud beritanya. Mulai dari berita utama, kriminal, bola, sampai deteksi dan kolom cinta-cintaan yang cuma terbit saat hari minggu saja itu. Wkkwkwkw sepertinya aku dewasa sebelum waktunya, untung aku tidak aneh-aneh anaknya HAHAHA
Ayah juga selalu memutar album-album lawas Iwan Fals. Tanpa sadar, semua lagunya sudah hapal di luar kepala olehku dan aku ikut mendendangkan lagu tersebut. Bayangkan nak-kanak kelas 3-4 SD nyanyi lagu Iwan Fals yang isinya tentang kritik sosial. Ya gak ada istimewanya sebenernya sih.
Namun, lagu-lagu ini yang menjadi vibes masa kecilku, hingga begitu membekas sampai aku berumur 25 tahun saat ini.
Saat Susah Bersama Ayah
Ayah orangnya begitu sederhana, begitu juga Mama. Saat itu, motor ayah masih motor butut yang suka mogok. Aku kurang paham nama motornya, namun ayah selalu menyebut motornya dengan nama "Robot". Ayah selalu diejek orang sekitarnya terkait motornya yang selalu mogok tersebut. Namun aku paham mengapa ayah belum mau membeli motor baru, karena ayah saat itu sedang mencicil untuk beli tanah.
Yepp, sedari bayi hingga aku kelas 1 SMP, aku masih tinggal dengan Nenekku (Ibunya Mama). Ayah dan Mama membeli tanah milik saudara di belakang rumah nenekku. Kayaknya tanahnya lunas pas aku mau menginjak kelas 6 SD.
Selama dengan si Robot, kami mengalami suka dan duka. Waktu itu Ayah mempunyai urusan ke Surabaya dan memintaku untuk menemani Ayah. Aku yang jarang keluar rumah dan keluar kota merasa senang menerima tawaran itu. Saat berangkat ke Surabaya, tak ada hambatan yang berarti sih. Sepanjang jalan, aku mendendangkan lagu-lagu Iwan Fals yang ku hapal mulai dari Bongkar, Puing, Air Mata Api, Nyanyian Jiwa, Perempuan Malam hingga Ibu. Hingga sampai di salah satu perempatan lampu merah di Surabaya, saat itu hujan baru saja reda. Aku melihat ada anak lelaki seumuranku basah kuyup. Di tangannya mendekap setumpuk koran yang sudah dilapisi plastik. Ia berdiri di pinggir perempatan sembari menggigil. Aku yang melihat hal itu langsung teringat lagu Iwan Fals yang berjudul Sore Tugu Pancoran.
Gambaran lagunya persis seperti itu. Mataku meneteskan airmata, tak sanggup melihatnya. Aku tak membayangkan bagaimana jika itu aku. Ayah tak tahu jika aku menangis, karena aku pandai menyembunyikan tangis dan kesedihanku eaaaa eaaaaa eaaaaaa~~~~~~
Aku sempat menginap sehari di rumah saudaraku di Surabaya sampai akhirnya urusan Ayah selesai dan kami harus pulang ke Jombang. Lagi-lagi, Surabaya menumpahkan air hujannya kala itu, dan drama dimulai.
Sebenarnya, sejak Wonokromo, motor ayah sudah menunjukkan tanda-tanda tidak jelas. Ketika mau masuk area Mojokerto, mulai lah mogok motor ayah, padahal itu hujan lebat. Ayah mendorong motornya dan aku mengikuti dari belakang. Sebenarnya sedari tadi kami sudah melewati banyak bengkel namun banyak yang tutup. Ada satu bengkel yang sedikit terbuka, namun ditolak oleh pemilik bengkel. Katanya, itu motor udah terlalu tua hahahah. Jadi maksudnya suruh ganti gitu? LOL KOCAK SIH sebenarnya walau saat itu aku sedih sekali dan tidak bisa tertawa sedih sekali :'(
Akhirnya ayah kembali menuntun motornya dan berusaha menstarter si Robot yang hidup segan mati tak mau itu. Dari belakang, aku terus berjalan, berharap Allah SWT memberi pertolongan dan keajaiban kepada kami. "Ya Allah, tolong lancarkanlah perjalanan kami sampai Jombang saja, kasihan ayah", tuturku lirih. Ayah berkali-kali juga menengok padaku dan berkata,"capek gak Nak? maaf ya Nak". Jujur, aku tidak merasa capek atau kesal, aku hanya sedih melihat ayah yang selalu susah dengan si Robot ini :'(
Setengah jam kami berjalan, mungkin Ayah sudah lelah jadi Ayah tidak awas melihat kanan kiri. Aku melihat ada bengkel besar buka di seberang jalan dan aku berteriak pada ayah,"YAH ITU ADA BENGKEEELLLLL"
Akhirnya motor ayah diperbaiki. Bajuku yang awalnya basah kuyup, sudah kering dengan sendirinya HAHA. Setelah motor ayah kelar diperbaiki, kami melanjutkan perjalanan pulang. Aku berdoa kembali semoga tidak mogok lagi motornya sampai rumah. Saat pulang, hujan deras kembali mengguyur. Aku ketar-ketir takut motor ayah mogok lagi karena hujan. Demi menghilangkan keresahan akan mogok, aku mendendangkan lagu Iwan Fals yang berjudul Pesawat Tempurku dong HAHAHAHA.
"Penguasa, penguasaaaaa berilah hamba uangggg
beri hamba uang!"
Beri hamba uang supaya bisa beli motor baru wkwk
Namun sekejap aku mengganti playlist laguku dengan lagu Iwan Fals ft Franky Sahilatua yang judulnya Terminal.
Bocah kurus tak berbaju
tajam matamu liar mencari bangsa
ramai para pedagang
datang tawarkan barang
ratap pengemis bak meriam dalam perang
iringi deru mesin-mesin
iringi tangis yang kemarin
aku datangi kamuuuu lewat laguuuuu
ku datangi kamuuuuuuu
Entah mengapa, lagu Iwan Fals sangat relate dengan kehidupan kami sebagai rakyat kecil saat itu.
14 Juli 2020
Aku menunggu go-carku di depan kantorku sambil main hago, hingga 10 menit kemudian go-carku sudah kelihatan dari ujung gerbang perumahan.
masuk, menyapa selamat malam ada driver dan duduk. Detik itu juga aku mendengar sebuah lagu yang tak asing, yang membangkitkan memori-memori masa kecil yang indah. Aku tahu banget lagu ini, ini lagu Iwan Fals yang berjudul Terminal.
Mendadak aku meneteskan airmata, teringat saat mogok motor dengan ayah 16 tahun lalu. Lagu yang ku dendangkan saat perjalanan pulang kala itu. Aku mendendangkan lagunya lirih sambil menerawang jauh saat masa kecil. Ah ayah, momen mogok berdua dan hujan-hujanan kala itu begitu istimewa rasanya. Terimakasih ayah, atas semua pengorbanannya.
Terimakasih ayah sudah mengajarkan banyak hal dalam hidup ini. Walau tak jarang kami sering berselisih paham, tapi sebenarnya aku sayaaaaaang bgt sama ayah! Ingin rasanya saat itu juga aku kembali ke masa kecilku itu lagi walau itu tak mungkin. Aku rindu sekali, ayah mama adek. Semoga aku bisa pulang ke rumah Jombang akhir Juli 2020 ini, aamiin.